Mencermati Beda Pendapat

0
78
views

Oleh: Ahmad Ifham Sholihin

Perhatikan kaidah ini:

لا ينكر المختلف فيه وانما ينكر المجمع عليه

“Jangan ingkari hal yang masih diperdebatkan di kalangan Ulama (imam mujtahid), tetapi ingkarilah (kebalikan dari) sesuatu yang sudah disepakati oleh Ulama (imam mujtahid).”

Contoh mukhtalaf fiih: ada Imam madzhab yang berpendapat bahwa qunut pada sholat subuh itu boleh. Sementara itu, ada Imam madzhab berpendapat bahwa qunut pada sholat subuh itu nggak boleh. | Maka, sudahlah, jangan salahin orang yang subuhnya pake qunut, dan jangan salahin juga orang yang subuhnya nggak pake qunut.

Itulah mukhtalaf fiih.

Di dalam praktik keuangan kontemporer, kadang kita temui pemakluman transaksi karena hanya masalah ikhtilaf.

Contoh: Madzhab Syafii menganggap sangat penting lafazh dan alur transaksi, sehingga dalam akad harus diucapkan. Dengan demikian, transfer dana di rekening tabungan, ini nggak sah menurut Imam Syafii. | Madzhab Hanafi nggak begitu. Imam Abu Hanifah menegaskan bahwa dalam akad itu yang penting maksud dan maknanya. Nggak apa-apa jika jual beli di swalayan tinggal ambil dan bayar pake alat sensor di kasir. Ini sah.

Ketika terjadi beda pendapat di kalangan Imam Madzhab, maka sudahlah nggak usah disalah-salahin. Dua-duanya merupakan pendapat yang benar. Tidak usah diperdebatkan.

Cermati..

Jika ingin komen terhadap transaksi Lembaga Keuangan Syariah, cek aja apakah termasuk ikhtilaf di kalangan Ulama, atau sudah mujma’ (disepakati)? Jika masih ikhtilaf, sudahlah, jangan disalah-salahin.

Simpulan..

“Menyalahkan transaksi yang ada ikhtilaf (beda pendapat) di kalangan Imam Mujtahid, sama saja memamerkan ketidakpahaman terhadap ilmu fikih.” Ifham Quotes

WaLlaahu a’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here