Teori Kebutuhan

0
75
views

Oleh: Ahmad Ifham Sholihin

Rasanya, semua ahli fikih akan sepakat bahwa tolok ukur maslahat (dalam bidang apapun) adalah adanya pemenuhan terhadap kebutuhan manusia di level dharuriyat dan hajiyat.

Dharurat atau Dharuriyat adalah

الضرورة مااذا لم يتناوله هلك او قرب

Kebutuhan dharurat atau dharuriyat adalah sesuatu kebutuhan yang ketika sesuatu itu tidak dicapai, maka akan muncul kerusakan atau kemusnahan (atau kematian).

Kebutuhan dharuriyat adalah ketika sesuatu itu bisa mempertahankan maqashid syariah (level darurat atau dharuriyat), yakni menjaga agama (hifzh al diin), menjaga jiwa (hifzh an nafs), menjaga akal (hifzh al aql), menjaga keturunan (hifzh an nasl), dan menjaga harta (hifzh al maal).

Hajat atau Hajiyat adalah:

الحاجة ما اذا لم يتناوله لم يهلك ولكن على ضيق وعسر

Kebutuhan hajat atau hajiyat adalah sesuatu kebutuhan yang ketika sesuatu itu tidak dicapai, maka tidak sampai muncul kerusakan atau kemusnahan (atau kematian), namun menghadirkan kesempitan, kesusahan, penderitaan dan kesulitan.

Kebutuhan hajiyat adalah ketika sesuatu itu bisa mempertahankan maqashid syariah (level hajat atau hajiyat), yakni menjaga agama (hifzh al diin), menjaga jiwa (hifzh an nafs), menjaga akal (hifzh al aql), menjaga keturunan (hifzh an nasl), dan menjaga harta (hifzh al maal).

Itulah dua jenis kebutuhan yang ketika memenuhinya, maka layak disebut KEBUTUHAN, bukan keinginan. Dharuriyat dan Hajiyat.

Sedangkan jenis aktivitas yang masuk dalam KEINGINAN, bukan kebutuhan adalah hasanat atau tahsiniyat. Tahsiniyat ini kadang dimasukkan juga dalam kategori kebutuhan, namun esensinya adalah pasti KEINGINAN.

Contoh kebutuhan..

1. Kebutuhan akan tempat tinggal adalah dharurat atau dharuriyat. Tempat tinggal adalah tempat berteduh dari panas dan hujan dan lain sejenisnya. Jika tempat tinggal tidak dipenuhi, maka akan muncul kerusakan dan bahkan kematian.

2. Kebutuhan akan memiliki tempat tinggal adalah kebutuhan hajiyat. Jika kebutuhan tempat tinggal adalah dharuriyat, maka kebutuhan memiliki tempat tinggal adalah hajiyat. Meskipun, untuk sampai bisa memiliki rumah, silahkan saja jika ngekos dulu atau ngontrak dulu. Namun, tetap saja bahwa kebutuhan memiliki rumah adalah kebutuhan level hajat atau hajiyat (lugasnya terutama bagi kepala rumah tangga). Bagi anak-anak, ya belum hajiyat.

3. Kebutuhan memiliki rumah mewah atau jumlah rumah melebihi yang dibutuhkan adalah kebutuhan hasanat atau tahsiniyat. Ini sudah masuk ranah keinginan. Tetap halal dan baik jika kebutuhan dharuriyat dan hajiyat sudah terpenuhi.

Masih banyak contoh lain yang bisa membedakan dengan mudah terhadap 3 jenis kebutuhan ini.

Dan perhatikan…

Dalam ushul fiqh (terutama bagian muamalah), ada 2 jenis peruntukan haram, yakni haram zat dan haram nonzat (transaksi).

Contoh haram:

Haram zat, tidak akan mungkin bisa dihalalkan ketika zatnya masih merupakan zat yang diharamkan. Daging babi itu mau digoreng atau direbus atau dirica-rica atau diapain juga tetap terkriteria haram.

Sedangkan haram nonzat (transaksi), bisa dihalalkan jika dilakukan pengubahan mulai dari istilah, skema atau alur, mekanisme, proses, sampai dengan esensinya.

Dari sini terlihat jelas bahwa ada perlakuan yang berbeda terhadap haram lidzaatih (zatnya) dan haram lighayri dzaatih (haram selain zat).

Kebolehan Haram

Sehingga muncul rumus bahwa ketika ada kriteria hukum zat haram, maka zat ini bisa jadi halal bahkan wajib jika berada dalam kondisi darurat atau dharuriyat.

Sementara itu, ketika ada kriteria hukum nonzat haram, maka nonzat ini bisa jadi halal bahkan wajib jika berada dalam kondisi hajat atau hajiyat.

Judgement hukum..

Sehingga, berhati-hatilah ketika memberikan judgement hukum. Hati-hatilah menjawab pertanyaan orang, terutama terkait case pada nonzat atau transaksi yang terlarang. Bahkan transaksi yang terkriteria halal pun bisa jadi terhukum mubah (boleh), bahkan wajib.

Contoh judgement..

[1]

Contoh pada transaksi yang hukum asalnya adalah HARAM.

Ketika ada yang bertanya tentang hukum bekerja di Bank Ribawi atau bekerja di Lembaga Keuangan Ribawi, maka dengan mudah saya akan jawab hukumnya haram!

Namun ketika sudah masuk pertanyaan kasus, misalnya “Ayah saya kerja di Bank Riba? Gimana hukumnya?” | Maka jangan buru-buru jawab. Tanya balik, gimana kondisi persisnya? Gimana posisi Ayahnya? Apakah memang sulit jika pindah? Adakah kewajiban di Lembaga Ribawi yang menyulitkan? Atau ajukan berbagai pertanyaan lain sampai kita bisa akurat menentukan apakah si Ayah ini dalah kondisi dharuriyat atau hajiyat?

Jika kondisinya si Ayah adalah dharuriyat dan valid beneran tanpa ada solusi lain yang lebih baik, maka kerja di Lembaga Ribawi adalah wajib.

Jika kondisi si Ayah ada dalam hajiyat (dengan beneran belum ada solusi yang tidak menyulitkan), maka hukum kerja di Lembaga Ribawi menjadi halal. Tentu si Ayah juga jangan keterusan keenakan pesta Riba. Si Ayah harus ikhtiar sekuat hati untuk secara bertahap menghindarinya. Usaha terus.

[2]

Contoh pada transaksi yang hukum asalnya adalah MUBAH (boleh).

Hutang adalah transaksi yang terkriteria hukum BOLEH. Sampai Allah mengatur adab hutang pada ayat paling panjang dalam Alquran.

Dalam Ushul Fiqh, hukum mbah sendiri ada 3 jenis, yakni (a) mubah yang dianjurkan dilakukan, (b) mubah yang silahkan pilih aja mau dilakukan atau tidak, dan (c) mubah yang dianjurkan tidak dilakukan.

Hutang, ternyata bisa menjadi wajib, bisa menjadi dianjurkan, bisa jadi haram.

Hutang dalam rangka pemenuhan kebutuhan dharuriyat, maka berhutang menjadi wajib. Hutang dalam rangka pemenuhan kebutuhan hajiyat, maka berhutang bisa menjadi diperbolehkan (dalam case khusus yang mendesak, bisa jadi dianjurkan). Hutang untuk berbuat maksiat ya jadi haram.

[3]

Contoh pada transaksi yang hukum asalnya adalah SUNNAH.

Kriteria hukum sedekah adalah sunnah. Namun sedekah bisa jadi wajib, sunnah, bahkan haram.

Sedekah bisa jadi wajib jika seseorang memiliki kelebihan harta dan di sekitarnya banyak pihak yang membutuhkan. Sedekah bisa jadi haram jika diikuti dengan adzaa (umpatan), pernyataan ketidakikhlasan secara nyata dan bahkan disebarluaskan.

Jangan samakan

Jangan samakan kebutuhan orang lain memiliki prioritas yang sama dengan kebutuhan kita. | Setiap orang akan wajar memiliki kebutuhan yang berbeda-beda dengan kita dan beda prioritas dibanding kebutuhan kita.

Jangan samakan solusi untuk orang lain adalah sama dengan solusi versi kita. | Pada case yang sama persis kriterianya, belum tentu memiliki solusi yang sama persis, bahkan bisa merupakan solusi yang bertolak belakang.

Simpulan..

1). Jaga maqashid syariah, baik dalam ranah dharuriyat maupun hajiyat. Jaga agama, jaga jiwa, jaga akal, jaga keturunan, jaga harta. | Itulah kebutuhan. Selain itu, adalah keinginan.

2). Haram zat bisa jadi halal jika ada dalam kondisi dharuriyat. Haram nonzat bisa jadi halal jika ada dalam kondisi hajiyat.

3). Judgement hukum terkait kebutuhan, akan ada sebanyak nyawa, karena sebanyak nyawalah akan ada perbedaan prioritas kebutuhan dharuriyat dan hajiyat.

WaLlaahu a’lam

Previous articleWajib Dagang
Next articleMencermati Beda Pendapat
SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here