Silahkan Pake e-Money

0
56
views
Oleh: Ahmad Ifham Sholihin
 
Polemik e-Money beredar di masyarakat. Ada yang bilang bahwa biaya top up (isi ulang) pada saldo e-Money adalah Riba Fadhl, karena ada kelebihan nilai pada pertukaran antara uang kertas dengan uang elektronik tersebut.
 
Benarkah Riba?
 
Logika Riba Fadhl dalam Fikih Muamalah Kontemporer bisa dipahami dengan mencermati logika fikih pertukaran barang ribawi yang disebut oleh Hadits. Hadits menyebut salah satu (dari enam) barang Ribawi paling populer adalah Emas.
 
Hadits secara spesifik mengatur bahwa pertukaran emas dalam bentuk apapun (baik berupa bijihnya dan bentuk lainnya), harus mengikuti kaidah yadan bi yadin, sawaa`an bi sawaa`in, mitslan bi mitslin, LUGAS banget haditsnya.
 
Jumhur Ulama pun mengharamkan jika pertukaran emas dalam bentuk apapun kok tidak mengikuti kaidah tersebut. Ternyata sampai saat ini pun di kalangan Ulama, ada diskursus terkait hal ini.
 
Ternyata ada Ulama yang berpikir beda dalam menafsirkan nash hadits tersebut. Ulama itu adalah Ibnu Taimiyyah dan Ibnu Qayyim al Jauziyah. Tentu saja beliau menggunakan istinbath hukum yang bisa dipertanggungjawabkan. Beliau mengecualikan logika hadits tersebut untuk case pertukaran emas perhiasan yang memang ada nilai lebih dan juga effort lebih. Artinya, beliau berpendapat bahwa pertukaran emas atau alat tukar dengan emas perhiasan, boleh dilebihkan nilainya.
 
Dalam Fatwa DSN MUI No. 77, MUI menafsirkan bahwa emas dalam bentuk apapun, BOLEH dipertukarkan dengan tidak tunai, jika emas bukan merupakan alat tukar resmi.
 
Coba cermati..
 
Ada logika-logika transaksi yang ternyata bisa diakomodir kebolehannya dalam fikih kontemporer, bahkan ketika nash dan jumhur ulama lugas mengharamkan. | Kalau Anda belajar Ushul Fiqh, Tarikh Tasyri’, Qawaid Fiqhiyyah, Fiqh Muamalah, maka akan paham alur logika hukumnya. Atau, cermati saja logika Fatwa DSN MUI No. 77.
 
E-Money
 
Apalagi ini e-Money yang penghukumannya tidak secara lugas pernah disebut dalam nash (meski uang -kertas- bisa disebut barang Ribawi). Logika fikih e-Money ini akan mungkin lebih fleksibel dibanding benda ribawi berupa emas.
 
Sederhananya, jika pertukaran (JUAL BELI) antara uang kertas dengan uang dalam bentuk e-Money ini tidak ada nilai lebih dan effort lebih nya, maka terjadi Riba Fadhl pada pembelian kartu dan top up-nya.
 
Perhatikan keunikan, kelebihan, kekurangan, effort yang dibutuhkan, nilai unggul dibanding uang kertas biasa. Pasti ada. Tentu saja tidak semua orang bisa memperoleh nilai lebihnya. Dan kondisi ini akan beda dengan uang kertas yang semua orang hampir pasti mau pake. | Dengan demikian, rasanya dengan mudah bisa dicerna bahwa e-Money ini nggak akan bisa disamakan status hukumnya dengan uang kertas. Ada nilai lebihnya.
 
Simpulan..
 
Sehingga, bisa disimpulkan bahwa jika ada pembelian kartu dengan saldo beda dengan rupiah yang dipertukarkan, dan juga jika pada top up saldo kok dikenakan biaya, ini sangat wajar dan halal. | Hanya saja, pastikan Anda dan keluarga Anda pake e-Money produk Bank Syariah saja.
 
Diskusi lebih menarik pada tataran preferensi aja. Termasuk dari sisi kemaslahatan ranah teknis, implementasi, regulasi, dll. Ini lebih menarik dibedah. | Kalau dari sisi kehalalannya, jika MUI saat ini berfatwa tentang e-Money, maka saya sangat yakin hukum e-Money adalah HALAL.
 
WaLlaahu a’lam
 
Rujukan:
Al Quran al Karim
Shahih dan Sunan
Kifaayah al Akhyaar
Al Asybaah wa an Nazhaair
I’aanah ath Thaalibiin
Bidaayah al Mujtahid wa Nihaayah al Muqtashid

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here