E-Money Kok Riba

0
198
views
Oleh: Ahmad Ifham, DPP Ikatan Ahli Ekonomi Islam [IAEI]
 
E-Money kok Riba? Ada-ada saja. | Biaya top up saldo e-Money kok Riba? Juga, ada-ada saja.
 
Hati-hati..
 
Hati-hati ya. Menyatakan riba pada transaksi yang halal, itu sama dengan menabuh genderang perang melawan Alquran dan Hadits.
 
E-Money Bank Syariah
 
Ada dua Bank Syariah yang sudah punya e-Money, yakni BNI Syariah dan Bank Syariah Mandiri. Bank Muamalat sedang nyusul bikin e-Money juga. | Kalau e-Money produk-nya Bank Konven ya sama saja Anda menjadi PENYEBAB PESTA RIBA. Bisnis Miras sama Rokok pun nggak dilarang dibiayai klo di Bank Konven. Mau, kalau suami atau anak Anda hoby pesta miras dan rokok? Hmmm…
 
Syariat e-Money
 
Okay. Mari hati-hati mencermati Syariat. Dalam ber-Syariat, mari disetir Logika. Jangan disetir perasaan, biar nggak baper. | Tentu saja al aql ash shahiih laa yata’aaradh bi an nash ash shariih. Akal yang shahih, tidak akan melawan nash.
 
Kenapa sebagian masyarakat ada yang beranggapan bahwa biaya top up pada e-Money dihukumi Riba? | Jawabannya, ya karena mereka suka disetir perasaan.
 
Mari cermati..
 
Mari kita cermati transaksi e-Money dan Top Up pada e-Money. | Pertama, transaksi e-Money sebagai uang elektronik. Kedua, Biaya pada top up saldo e-Money.
 
PERTAMA,
 
E-money itu uang elektronik. Uang yang memang berbeda dengan uang biasa yang berupa uang kertas atau logam.
 
Ingat rumus “profit masuk akal hadir jika dan hanya jika melalui Jual Beli.”
 
Katakanlah e-Money ini dijual dengan harga 15.000 untuk fasilitas kartunya. Kemudian saldo senilai 35.000. Jadi, sepaket kartu e-Money dihargai 50.000 untuk saldo 35.000.
 
Pada transaksi ini, saya kira mudah dipahami bahwa tidak ada Riba. (1) Uang 35.000 ditukar dengan saldo uang 35.000. (2) Uang 15.000 ditukar dengan MANFAAT penggunaan kartu e-Money.
 
Pertukaran antara uang dengan manfaat, menurut Kitab Fikih seperti Kifaayah al Akhyaar, I’aanah Ath Thoolibiin dan di Bidaayah al Mujtahid wa Nihaayah al Muqtashid, pertukaran ini disebut JUAL BELI MANFAAT. Jadi, pengambilan profit sebesar 15.000 jelas SAH. Halal. Sesuai Syariat Islam.
 
KEDUA,
 
Biaya top up saldo. Top up saldo adalah juga FASILITAS. Buktinya? Ya coba aja Anda pemegang kartu ini melakukan top up sendiri, mana bisa? Jelas nggak bisa. Pasti butuh fasilitas top up yang disediakan oleh penyedia jasa top up.
 
Jika Anda paham kaidah Jual Beli seperti pada penjelasan di bagian Pertama tadi, maka Anda juga akan bisa dengan mudah memahami bahwa BIAYA Top Up ini sejatinya Jual Beli MANFAAT. Logis kan.. Jual Beli Manfaat sekali top up misalnya 2.000. Kenapa bukan 5.000? Lha jual beli. Terserah penjual bikin harga. Take it or leave it.
 
Tidak perlu dalil panjang lebar. Apalagi dalam hal Muamalah, ketika kita tidak sedang melarang suatu transaksi, maka jelas tidak perlu dalil. Jika setiap kita membolehkan sesuatu kok nanya Dalil, dunia bisa sangat kacau, dan rusaklah dunia.
 
Kenapa Bisa Riba?
 
Kenapa Top Up Saldo diduga transaksi Riba? Entahlah. Mungkin yang bilang bahwa Biaya Top Up Saldo E-Money adalah Riba itu, pas lagi sebel sama pemerintah dan BI. | Naah bersyariat itu jangan pake sebel-sebelan. Jangan baper-baperan. Capek ntar.
 
Simpulan..
 
Biaya Top Up Saldo e-Money itu halal. Ayo pake produk e-Money yang dikeluarkan Bank Syariah. Sudah ada Dewan Pengawas Syariah DSN MUI yang ngawasi. Ulama Dewan itu. Bukan Ulama Dewean (sendirian).
 
“Ulama Dewan aja bisa salah, apalagi Ulama Dewean, apalagi akal sampeyan.”
 
Ayo ke Bank Syariah. #iLoveiB

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here