Logika Berpikir

0
112
views
Oleh: Ahmad Ifham Sholihin
 
—TANYA—
 
“Mas, saya nunut tanya topik lain di sini, njih. #kulonuwun_dulu 😊
 
pertanyaan ini untuk semua saja, tapi terkait pernyataan pak Ahmad Ifham: “akal sehat tidak akan melawan ayat kitab suci”
 
Pertanyaan saya begini: akal sehat manusia itu kan berkembang dan terbatas, jadi ada kemungkinan akal sehat kita yg terbatas itu tetap belum mampu memahami ayat kitab suci dg benar/tepat, bukan?
 
Jika demikian, bisakah kita tidak mengintepretasikan/menafsirkan ayat yg belum mampu kita pahami tsb, dalam artian : ‘untuk sementara waktu’ ayat yg tdk kita pahami itu, kita terima sbg kebenaran kitab suci, tapi kita tak ambil tindakan apapun berdasarkan tafsir/intepretasi kita (atas dsr keterbatasan akal sehat kita)
 
Pertanyaan saya ini bersifat umum, tdk hny menyoroti bab poligami, krn sy ini Katolik, jadi hny bisa menempatkan Alquran sebagaimana Alkitab saya saja. (Mgkn tak termasuk yg percaya Alquran, ya?)
 
Pertanyaan sy di atas, berdsr pengalaman pribadi: Walau saya mengimani kebenaran isi Alkitab, tapi makin hari saya merasa makin banyak hal baru yang menantang akal sehat saya (bahasa kerennya : aku ora mudheng maksudnya 😅). Dan dg rendah hati, mung bisa saya tandai : ‘yg ini belum paham’.
 
Jadi bisakah ada kemungkinan tafsir atas ayat poligami (atau ayat2 yg lain) itu berkembang sesuai perkembangan akal sehat kita dan perkembangan sejarah dunia pula?
 
Matur nuwun sebelumnya untuk tanggapannya. #nyimak_jawaban.”
 
—— JAWAB ——
 
Tidak akan mungkin ada nash (dalil Alquran dan Hadits), ijma’, qiyas, serta dalil mukhtalaf (yang diperselisihkan), bisa ditafsirkan tanpa logika. Akal. | Jadi, akal berperan terlalu vital di dalam mengimplementasikan ayat-ayat suci.
 
Pertanyaannya, akalnya siapa yang layak dipercaya dan/atau dianggap benar dalam memaknai ayat suci? Akalnya saya? Akalnya sampeyan? Akalnya Ulama Dewan? Akalnya Ulama Dewean (sendirian)?
 
Perhatikan kaidah:
 
العقل الصحيح لا يتعارض بالنص الصريح
 
“Akal sehat tidak akan bertentangan dan/atau melawan ayat suci yang lugas.” | Logika siapapun, tidak disebut logika shahih, jika logika tersebut melawan ayat suci.
 
Kembali lagi, logika siapa yang layak dipercaya?
 
Di sinilah pentingnya Ushul Fiqh. Perhatikan definisi ushul fiqh berikut ini
 
اصول الفقه: معرفة دلائل الفقه اجمالا وكيفية الاستفادة منها وحال المستفيد
 
Ushul Fiqh adalah pemahaman (level ma’rifat) terhadap dalil-dalil fiqh secara global dan cara memanfaatkan dalil tersebut (dalam rangka menentukan hukum) dan kondisi (syarat) apa saja yang harus dipenuhi oleh orang yang (layak) memanfaatkannya (kriteria mujtahid).
 
Ushul fiqh itu, ibarat sebuah penelitian, ia adalah metodenya. Metode berhukum, metode untuk menarik kesimpulan hukum atas case tertentu. | Tambah lagi ada Qawaid Fiqhiyyah. Tapi kita fokus bahas Ushul Fiqh saja.
 
Nah.. Siapa yang layak jadi mustafid atau mujtahid? | Ada banyak. Harus hafal Alquran, harus hafal sekian ratus ribu hadits, harus paham ilmu alat, harus paham tafsir, dll dll yang Guru ushul fiqh saya sampai bilang bahwa SAAT ini nggak bisa ditemukan lagi mujtahid beneran mujtahid. Paling banter saat ini adalah pentarjih atau muqallid.
 
Pentarjih itu mengambil pendapat yang rajih dari berbagai Ulama. Contohnya ya yang biasa dilakukan MUI dalam Fatwa-nya. MUI menyebutkan dalilnya, kaidahnya, pendapat para Ulama, lalu diambil pendapat paling rajih (paling maslahat dalam kondisi kekinian). Kalau muqallid itu ya level kita inilah. Taklid aja sama Ulama Dewan. Ulama Dewan ya, bukan Ulama Dewean (sendirian).
 
Contoh kasus tentang poligami. | Untuk case kebolehan poligami, saya malah tidak lagi melihat ada perbedaan pendapat di kalangan Ulama terkait kebolehan poligami. Saya belum menemukan ada Ulama yang mengatakan kriteria hukum poligami selain boleh.
 
Kebolehan poligami juga hanya untuk laki-laki, sehingga menggunakan perintah فانكحوا lanjut ما طاب لكم trus من النساء lugas disebut yang dinikahi adalah WANITA. Ayat ini lugas tidak mengatur poliandri, tapi poligami. Ulama pun kompak melarang poliandri.
 
Terkait poligami, biasanya perbedaan pendapat di kalangan ulama ada pada definisi فان خفتم ان لا تعدلوا فواحدة yakni, jika kalian khawatir nggak bisa adil, cukup beristri satu aja. Beristri satu aja belom tentu mampu. Tapi tetap boleh beristri satu walau sejatinya nggak mampu. | Akan ada berbagai tolok ukur tentang mampu. Tapi, apapun tolok ukur disebut “mampu”, maka tidak akan menyebabkan kriteria hukum poligami berubah. Tetap boleh.
 
Terkait kriteria “mampu”, Guru ushul fiqh saya berlogika bahwa “mampu” itu bukan syarat sah poligami, beda dengan wudhu yang merupakan syarat sah sholat. Oleh karena itu, poligami akan sah meski kriteria mampu itu sendiri belum clear.
 
Pertanyaan muncul lagi, siapa yang layak menafsirkan ayat ini dan layak dijadikan panutan?
 
Kalau mau ilmiah, telusuri saja, di maktabah asy syamilah ada 96 sudut pandang tafsir, termasuk i’rab, asbaab an nuzul dll dll. Dari 96 tafsir itu tak ada yang ditulis oleh orang Indonesia, namun Ulama Mujtahid masa lalu seperti Ibnu Katsir, al Maraghi, Jalalain, dll dll. Plus cek aja pendapat para Imam Madzhab terkait poligami. Cek juga pendapat Ulama lain seperti al Ghazali, ibn Rusyd, ibn Taimiyah, dll dll. | Dari 96 tafsir masyhur tersebut tidak ada yang bilang kriteria hukum poligami selain halal.
 
Lebih sistematis lagi, telusuri:
 
1. Nash (Alquran Hadits) dengan perspektif 96 tafsir tadi plus tafsir hadits.
 
2. Ijma’ dan Qiyas. Cek aja, ada nggak sih Ijma dan Qiyas yang menyatakan kriteria hukum poligami selain boleh?
 
3. Dalil mukhtalaf seperti mashlahah mursalah, urf, istihsan, istish-hab, qaul shahabi, syar’u man qablana, sadd adz dzarii’ah, cek semua, ada nggak yang menyatakan kriteria poligami selain boleh?
 
Dari 3 poin tersebut jelas tidak ada yang menyatakan kriteria hukum poligami selain boleh. | Jika kriteria hukumnya boleh, tentu saja judgement hukum poligami akan bisa jadi haram, makruh, sunnah, bahkan wajib. Tergantung kondisi dharuriyat atau hajiyat.
 
Begitulah cara memasang logika kita. Itulah cara mengukur logika kita sudah shahih atau belum.
 
Itulah ilmu Islam. Itulah ilmu Ushul Fiqh. Maha luas. Begitu banyak Imam Mujtahid yang sudah menulis ribuan buku/kitab induk. Kita manusia modern masa kini tinggal merujuk dan mentarjih.
 
Sulit ditemukan persoalan kontemporer yang tidak bisa dibedah dengan metode ushul fiqh. Sebut saja eMoney, aplikasi Ojek Online, MLM Payment Point, Bisnis Online, Hedging, Valas, dll dll.
 
Dengan demikian, zaman boleh modern, instrumen boleh hadir seunik-uniknya, case boleh serasa rumit, namun tetap akan bisa ditentukan ushul fiqhnya, sebagai kontrol apakah akal kita sehat atau tidak.
 
waLlaahu a’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here