Eksotisme Lintas Madzhab

0
23
views
Oleh: Ahmad Ifham Sholihin
 
Imam Syafi’i menekankan akad pada lafazh (ucapan) dan mabani (alur), bukan pada maqashid (tujuan) dan ma’ani (makna). Sementara Imam Abu Hanifah dan Imam Ahmad bin Hanbal menekankan maqashid dan ma’ani dibanding alfazh dan mabani.
 
Jika demikian, maka Imam Syafi’i tidak membolehkan transaksi online, bisnis online, transfer, transaksi di swalayan tanpa akad lugas, dan berbagai transaksi lain yang ijab qabulnya tidak diucapkan lugas maksud dan tujuannya. Berarti pengguna transfer di Bank Syariah, bisnis online dan ijab qabul yang tinggal klik OK dan sejenisnya, tidak sedang bermadzhab Syafi’i, tetapi sedang menganut Madzhab Hanafi atau Madzhab Hanbali.
 
Menurut Madzhab Syafi’i, jika suami istri bersentuhan langsung, maka batal wudhunya. Sedangkan dalam menjalankan Ibadah Haji, langsung nggak pake Madzhab Syafi’i.
 
Madzhab Syafi’i mengharuskan wanita menutup aurat semua tubuhnya (hanya terlihat matanya), yang berarti pake cadar. Berarti dalam hal ini, mayoritas masyarakat Indonesia tidak bermadzhab Syafi’i.
 
Talfiq
 
Lalu, sebenarnya gimana ketentuan talfiq (pindah madzhab)? Gimana aturannya? Gimana caranya?
 
Gampang. Caranya pindah madzhab ya langsung pindah aja. Langsung. Nggak usah rumit. Gunakan aja madzhab lain, jika ada kondisi ketentuan madzhab tertentu yang memberatkan.
 
Syaratnya? | Syaratnya, kita harus paham apa yang kita pilih ada dasarnya, ada Imam Madzhab yang membolehkan. Sesederhana itu.
 
Fiqh Muqaran
 
Konsekuensinya, kita harus memahami fiqh perbandingan madzhab. Baca kitab-kitab Imam Madzhab, baca dan pahami landasan hujjah yang diambil oleh Imam Madzhab. Minimal, pahami bahwa ada Imam Madzhab yang membolehkan.
 
لا ينكر المختلف فيه وانما ينكر المجمع عليه
 
“Jangan ingkari perkara yang diperselisihkan (oleh Imam Mujtahid), dan ingkari (lawan dari) perkara yang sudah disepakati (oleh Imam Mujtahid).”
 
Jika ada satu saja Imam Mujtahid (Imam Madzhab) yang membolehkan sesuatu (aktivitas), meski Anda nggak setuju, janganlah Anda menyatakan bahwa sesuatu (aktivitas) itu dilarang Syariat. Jangan pula mudah mengkafirkan atau membid’ahkan.
 
Bolehkah kita mengambil madzhab yang memiliki ketentuan paling ringan atas suatu perkara? | Boleh.
 
Kita boleh pake madzhab paling ringan, asalkan jangan seenaknya. Misalnya, ada satu Imam yang menyatakan bahwa nikah boleh tanpa wali, tapi rukun lain harus ada. Sementara ada juga satu Imam yang menyatakan bahwa nikah boleh tanpa saksi, tapi rukun lain harus ada. Nah, jangan terus malah nikah tanpa wali tanpa saksi, karena ini adalah talfiq yang lebay. Jangan ya. Eh tapi kalau di NKRI, kalau mau nikah, lengkapilah semua rukun dan syarat. Ini contoh sikap patuh terhadap Allah, Rasulullah dan Ulil Amri (Ulama dan Umara).
 
Untuk yang awam, silahkan ambil madzhab paling ringan, asal beneran ada Madzhab yang membolehkan, minimal tahu dari Guru yang kredibel. Untuk yang paham Fiqh Muqaran, jangan pilih paling ringan, pilihlah yang terbaik dan paling hati-hati.
 
waLlaahu a’lam
Previous articleAhli Fikih Ahli Bahasa
Next articleSumber Ilmu
SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here