Upgrade Kompetensi Bankir Syariah

0
62
views
Gold Fish jumping from one fish bowl to another

Oleh: Ahmad Ifham Sholihin

Kompetensi itu dibangun oleh aspek attitude, skill dan knowledge. Dan itu urut prioritas.

Attitude adalah nomor 1. Contohnya adalah kejujuran. | Skill (keterampilan) adalah nomor 2, misalnya konkret pengalaman jadi bankir syariah di bidang tertentu selama 10 tahun. Sedangkan knowledge (pengetahuan) adalah prioritas terakhir, misalnya lulusan Ekonomi Syariah.

Kalau ada orang yang kompetensi attitude dan skillnya di bidang perbankan syariah sudah bagus, maka nggak perlu lagi sertifikat knowledge seperti ijazah ekonomi syariah. Makanya tak heran jika hanya 10% bankir syariah yang lulusan ekonomi syariah. Sederhana saja, karena yang 90% lulus tes (psikotes dan sejenisnya).

Psikotes masih merupakan alat ukur ilmiah untuk seleksi dan asesmen yang diakui oleh akademisi sekaligus industri.

Nah, Kompetensi bankir syariah tentu saja dibangun oleh ketiga aspek tersebut di atas. Rumus aspek kompetensi di atas pun bersifat universal. Bisa diterapkan juga di bisnis apapun (yang halal tentunya).

Pada setiap posisi atau jabatan, pasti ada rumus kompetensinya, meski tidak disusun secara sistematis dalam bentuk kamus kompetensi. Dari sisi levelnya, sederhana saja pemilahannya, yakni dari sekedar tahu sampai menjadi pakar pada setiap ranah kompetensi terkait, dari fungsi klerikal sampai manajerial.

Kompetensi di ranah attitude, skill dan knowledge tadi akan ada banyak jika dirinci. Namun disarankan agar tidak banyak-banyak, misalnya cukup 8 – 10 kompetensi, terdiri dari 2 core competency (kompetensi inti), dan selebihnya bisa kombinasi antara managerial competency, behavioral competency dan functional/technical competency.

Contoh core competency adalah amanah dan jamaah. Itu contoh dua kompetensi utama yang harus dimiliki semua pegiat bank syariah level apapun, dari Office Boy sampai Komisaris Utama. Itu misalnya.

Contoh managerial competency, ada leadership, kemampuan mengembangkan orang lain, dan sejenisnya. Behavioral competency juga akan bersifat soft skill.

Sedangkan functional competency, misalnya pengalaman kerja di bidang aplikasi Core Banking System, pengalaman di bidang Product Development, dan sejenisnya.

Upgrade kompetensi

Kompetensi bisa diupgrade. Caranya bisa ada banyak. Cara upgrade kompetensi bankir syariah menurut saya adalah dengan tiga hal, yakni menguasai ilmu alat, menguasai ilmu ushul fiqh, dan kemauan kuat untuk meraih ilmu.

(1) menguasai ilmu alat (nahwu shorof) adalah penting karena nahwu shorof adalah alat untuk menguasai semua ilmu dari ilmu attitude, ilmu skill dan ilmu knowledge itu sendiri, termasuk di bidang perbankan syariah. Ilmu alat sangat penting untuk modal awal menafsirkan nash Alquran dan nash Hadits. Yakinlah, setiap manusia itu cerdas. Mari kita pahami ilmu alat ini.

(2) menguasai ilmu ushul fiqh yang dilengkapi dengan pemahaman terhadap qawaid ushuliyyah, qawaid fiqhiyyah dan dhawabith fiqhiyyah, juga penting karena ushul fiqh (utamanya) adalah rumus menentukan logika fikih ilmu apapun, utamanya dalam hal penentuan hukum, termasuk di bidang perbankan syariah. Ada anggapan cukup DPS (Dewan Pengawas Syariah) yang tahu ini. Namun, bagi saya, Direct Sales atau marketing di lapangan pun sangat penting memahami ilmu ini karena merekalah juru kampanye terdepan dari bank syariah. Tinggal kita cari format termudah memahami ilmu ushul fiqh.

(3) kemauan kuat untuk meraih ilmu. Kitab Ta’lim al Muta’allim bilang bahwa tiada diperoleh ilmu kecuali dengan 6 perkara, yakni mengencerkan akal, rakus (ilmu), sabar (jangan bermental instan), bekal (biaya atau effort), cerdas bijak dan membimbingnya guru, panjangnya waktu (selamanya sampai liang lahat). Terkait poin rakus (ilmu), Kitab Ta’lim Muta’allim menggariskan ada 3 ilmu yang wajib dikuasai, yakni (a) ilmu tentang ibadah termasuk ilmu apapun yang membuat ibadah menjadi sah, (b) ilmu tentang dagang (muamalah), dan (c) ilmu tentang dinamika hati (ahwaal al qalb).

Ketika bankir syariah mau memahami dan menerapkan tiga poin di atas, segera, dan kompak, maka semua bank bisa lebih cepat menjadi bank syariah semua.

WaLlaahu a’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here