Biaya dan Jual Beli

0
47
views
Warga berbelanja untuk memenuhi kebutuhan Ramadan di Pasar Bandarjo, Ungaran, Kabupaten Semarang, Jateng, Rabu (17/6). Meski harga sejumlah komoditi mengalami kenaikan, pedagang setempat mengaku jumlah permintaan dari warga yang berbelanja tetap mengalami peningkatan antara 50 persen hingga 100 persen untuk memenuhi kebutuhan mereka selama Ramadan. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/Rei/pd/15.

Oleh: Ahmad Ifham Sholihin

Salah satu grand rumus bisnis syariah khas grup ILBS dan KBS adalah:

*”Profit masuk akal hadir jika dan hanya jika melalui Jual Beli. Tidak bisa tidak.”* Ifham Quotes

Ketika muncul COA (Chart of Account) atau istilah berjudul BIAYA, maka dalam pengambilan (penentuan) nominal biaya-nya berlakulah logika Jual Beli.

Biaya, dalam perbankan syariah menghasilkan pos keuntungan yang berasal dari Fee Based Income. Logika ini pun menunjang logika bahwa biaya menghadirkan profit yang harus melalui jual beli.

Penentuan Nilai

Gimana cara menentukan nilai biaya? | Secara prinsip syariah Islam, penentuan nilai biaya berdasarkan faktor apapun itu halal, asal nilainya jelas, terukur dan tentu ada nominal tertentu.

Di berbagai Fatwa DSN MUI, muncul logika penentuan biaya harus berdasarkan biaya riil yang dikeluarkan. Biaya tidak boleh ditentukan dengan perhitungan X% x plafond pembiayaan.

Apa itu Riil? | Riil adalah nyata.

Apa definisi operasional dari Riil? | Sederhana saja. Kitab I’aanah ath Thaalibiin Juz 3 mengungkap objek jual beli itu ada 2, yakni [1] ayn (barang), dan [2] manfaah (manfaat). Manfaat dipilah lagi jadi 2, yakni [a] manfaah dari ayn (biasanya disebut sewa barang atau jual beli fasilitas barang), dan [b] manfaah dari a’maal (biasanya disebut jual beli jasa).

Jika harga jual beli sudah bisa ditentukan berdasarkan objek akad tersebut (ayn, manfaah ayn, manfaah a’maal), maka itulah harga riil.

Contoh harga riil dari ayn. Harga kertas 1 rim A4 berat 70 gram di toko A dengan merek Y misalnya 20.000, maka angka 20.000 itulah harga riil. Toko B menjual barang yang sama persis spesifikasinya seharga 40.000, maka angka 40.000 itulah harga riil.

Itu barang

Contoh harga riil dari manfaah barang. Misalnya penggunaan mesin EDC disewakan dengan biaya 2.000 per transaksi, itulah harga riil. Namun di saat tertentu disewakan dengan biaya 4.000 per transaksi, itulah juga harga riil.

Contoh harga riil dari manfaah a’maal (jasa) pengurusan pembiayaan untuk plafond yang sama adalah 2juta, sementara di pembiayaan nasabah lain dengan plafond yang sama adalah 4juta, maka itulah biaya riil, bisa 2jt, bisa 4jt.

Beda jumlah biaya

Dalam pembiayaan dengan plafond sama aja biaya riil bisa dan boleh beda, apalagi jika plafond pembiayaan berbeda, maka biaya riil bisa dan boleh beda, TAPI JANGAN berdasarkan persen x plafond. Silahkan tentukan aja berdasarkan biaya pengurusan pembiayaan, jual beli dengan objek manfaah al a’maal.

Setelah nominal harga riil ditentukan, misalnya nominal biaya-nya kok TERNYATA SETARA dengan 1% x plafond pembiayaan, ya sudah, nggak apa-apa.

Model Tiering

Penghitungan biaya dengan model tiering, nggak apa-apa juga. Dasarnya ya dikalkulasikan aja biaya jual beli ayn, jual beli manfaah ayn dan jual beli manfaah a’maal tadi.

Biaya sama

Jika mau menggebyah uyah dalam definisi menyamakan biaya adminnya untuk semua plafond pembiayaan, secara syariah, ini halal saja, namun secara bisnis praktis, disesuaikan lagi aja dengan regulasi dan kelaziman bisnis. Beda biaya untuk beda pembiayaan kan halal.

Zero biaya

Jika ingin menghilangkan biaya admin, secara syariah pun boleh, asalkan secara bisnis praktisnya bisa cari celah yang menyebabkan comply dengan regulasi internal dan eksternal.

Kan udah digaji?

Karyawan kan udah digaji oleh perusahaan untuk melakukan pekerjaan sesuai job desc-nya, kok masih ada biaya pengurusan pembiayaan? | Ya ndak apa-apa. Tidak dilarang syariat. Jadinya boleh.

WaLlaahu a’lam

Previous articleRoyalti Ala Paytren
Next articleSeminar
SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here