Gharar Boleh

0
111
views

Oleh: Ahmad Ifham Sholihin, CEO Amana Sharia Consulting | www.AmanaSharia.com

Kita, pegiat ekonomi syariah, sering dengar dan baca buku rujukan bahwa transaksi gharar dan transaksi maisir itu dilarang oleh syariat Islam. | Hukum asal dari larangan adalah haram.

Benarkah gharar dan maisir merupakan transaksi terlarang? Benarkah larangannya mutlak? Adalah gharar dan maisir yang boleh dilakukan?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari kita cermati logika fikih gharar dan maisir dari sisi ushulnya, dari sisi nash dan pendapat berbagai Ulama tentangnya.

Gharar

Apa itu Gharar? | Sederhananya, Gharar adalah sesuatu yang nggak jelas atau nggak pasti. Bahkan bisa dimaknai, Gharar adalah sesuatu yang hanya fatamorgana saja.

Allah berfirman:

وماالحيوة الدنيا الا متاع الغرور

“Dan tiada kehidupan di dunia ini kecuali kesenangan yang nggak jelas, (kesenangan semu, kesenangan yang hanya fatamorgana).”

Dalam terminologi fikih muamalah, Gharar adalah melakukan transaksi atas sesuatu yang belum pasti. Memastikan hal yang memang tidak bisa dipastikan. Gharar. Nggak jelas. Nggak pasti.

Larangan Gharar

Larangan (jual beli) Gharar adalah Sabda Rasulullah SAW yakni

نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن بيع الحصاة وعن بيع الغرار

“Rasulullah SAW menahan (mencegah atau melarang) jual beli dengan lemparan batu dan (menahan) dari jual beli gharar.”

Ketika pelarangan menggunakan kata nahaa (menahan, mencegah), maka ada potensi adanya kriteria Gharar yang diperbolehkan. Tentu saja hukum asal dari (jual beli) Gharar adalah haram.

Beda dengan larangan yang menggunakan kata harrama atau hurrimat yang secara kriteria hukum sudah lugas keharamannya. Contoh pelarangan Riba menggunakan kata harrama, maka serupiahpun kalau Riba ya kriteria hukumnya adalah haram.

Gharar Halal

Benar saja, ada beberapa transaksi Gharar yang diperbolehkan, yakni:

[1]

Gharar pada transaksi nonprofit dalam konteks non-mu’awadhah. | Mu’awadhah adalah transaksi yang secara kriteria hukumnya merupakan transaksi layak berimbal hasil dan/atau yang harus ada pengembalian atas harta yang dikeluarkan, seperti jual beli, kongsi, pinjaman.

Jadi, non-mu’awadhah biasanya adalah transaksi nonprofit untuk kategori transaksi yang tanpa ada kewajiban untuk ada pengembalian atas harta yang diberikan.

Contoh transaksi Gharar yang boleh adalah Gharar dalam hibah. Dalam hibah atau sumbangan, boleh ada Gharar. Misalnya, “saya nyumbang buat siapapun yang nanti kena musibah.” Sumbangan dititipkan ke masjid (misalnya). Pada saat akad sumbangan diberikan, sejatinya kriteria penerima sumbangannya sudah jelas, yakni orang yang nanti kena musibah. Itu kejelasan kriteria. Namun, pada saat akad sumbangan dilakukan, JELAS BELUM TENTU orangnya sudah ada, dan belum diketahui siapa orangnya. | Bahkan, boleh juga peruntukan sumbangan diserahkan sepenuhnya kepada pengelola sumbangan. Inilah Gharar. Gharar yang boleh.

Contoh praktisnya bisa dilihat pada Asuransi Syariah. Asuransi Syariah menggunakan akad Hibah atau Nyumbang. Tiada Asuransi Syariah tanpa nyumbang.

Karena akadnya hibah, maka hibahnya nanti untuk peserta asuransi yang mana, pada saat akad, nggak bisa ketahuan jelas/pasti. Ini jelas Gharar yang boleh. Dan dampak dari Gharar ini menyebabkan transaksi sejenis Maisir karena akan ada spekulasi yang terjadi. Bisa saja nanti yang dapet hibah adalah si A, si B, atau bahkan si Z. Ini spekulasi. Spekulasi yang halal.

[2]

Gharar yang halal berikutnya malah terjadi pada Bay’ al Gharar.

Gharar pada bay’ al Gharar bisa menjadi boleh jika Gharar itu bersifat satu kesatuan dari objek akad yang diperjualbelikan dan sulit untuk dipastikan spesifikasinya secara rinci, dan bahkan jika spesifikasinya secara rinci ingin dipastikan, maka akan menimbulkan kerusakan.

Bay al Gharar untuk case ini boleh dilakukan, dan silahkan pastikan bahwa tidak ada zhalim dan tidak ada bathil yang akan dialami oleh pihak yang berakad. | Tentu saja rumus ini tidak berlaku pada transaksi terlarang yang menggunakan kata larangan harrama atau hurrimat.

Contoh bay al Gharar yang boleh, misalnya beli rumah. Rumah itu spesifikasi isi temboknya bisa berupa bata merah atau bataco. Keduanya punya spesifikasi beda dan harga yang berbeda pula. Namun, di saat kita beli rumah, kita tidak perlu terlebih dulu membongkar rumahnya untuk mengetahui dengan pasti bahwa semua isi tembok itu beneran terdiri dari batu bata merah yang ditambah semen dan lain lain. | Bay al Gharar ini boleh dilakukan karena Gharar yang ada merupakan bagian satu kesatuan dari objek akad yang jika Ghararnya dihilangkan, maka akan menimbulkan kerusakan objek yang sangat tidak perlu.

Itulah jenis-jenis Gharar yang diperbolehkan, baik Gharar dalam transaksi Mu’awadhah maupun transaksi non-Mu’awadhah.

Gharar Haram

Kita tegaskan lagi, Gharar haram adalah Gharar pada transaksi mu’awadhah seperti Bay’ dan Syirkah. Bay al Gharar menjadi haram jika Ghararnya bisa dipisahkan dengan mudah dan tidak menyulitkan.

Solusi atas Gharar

Agar tidak mengandung transaksi Gharar yang haram, dalam Bay’ atau Syirkah, objek transaksinya harus pasti dan jelas, hak dan kewajiban harus diatur jelas, term and condition harus diatur jelas.

WaLlaahu a’lam

Previous articleBelajar Itu Fardhu
Next articleIkutan MUI Aja
SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here