Logika Fikih Qardh wal Ijarah

0
102
views
pinjaman uang tanpa jaminan
Oleh: Ahmad Ifham Sholihin, DPP Ikatan Ahli Ekonomi Islam | www.AmanaSharia.com
 
Suatu ketika saya buka Kitab I’aanah ath Thaalibiin Juz 3, ketemu statement:
 
كل قرض جر منفعة فهو الربا
 
“Setiap qardh (hutang piutang) yang (mensyaratkan) ada aliran manfaah (atau faidah), adalah Riba.”
 
Gimana dengan konstruk Qardh wal Ijarah yang difatwakan boleh oleh Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia? Gimana logika praktiknya?
 
Perhatikan pernyataan Imam asy Syafii dan senada dengan al Mawardi, yakni:
 
نهى رسول الله صلى الله عليه عن بيع وسلف
 
“Rasulullah SAW menahan (mencegah atau melarang) adanya (percampuran) jual beli dan pinjaman.”
 
Yang Terlarang
 
Berdasarkan dua saja logika pernyataan di atas, jelas terlihat bahwa qardh yang mensyaratkan adanya jual beli adalah Riba, dan Riba adalah haram.
 
Menurut Ibnu Rusyd dalam Kitab Bidaayah al Mujathid wa Nihaayah al Muqtashid juz 2, beliau mengawali pembahasan mengenai Ijarah dengan pernyataan bahwa Ijarah adalah Jual Beli Manfaat. Semua hukum yang berlaku pada Jual Beli, berlaku juga pada Ijarah, hanya saja objek Jual Beli dalam Ijarah adalah Manfaat (hal ini dipertegas juga dalam Kitab I’aanah ath Thaalibiin).
 
Dengan demikian, Qardh yang MENSYARATKAN adanya Ijarah adalah Haram karena Riba.
 
Logika Fatwa
 
Larangan Qardh wa Salaf di atas menggunakan kata نهى sehingga ini membuka peluang Qardh wa Salaf yang boleh, tentu saja dengan syarat dan ketentuan khusus.
 
Jika melihat definisi Qardh Jarra Manfaah di atas saya sebutkan juga bahwa Qardh Jarra Manfaah yang Riba adalah ketika DISYARATKAN.
 
Jadinya Halal
 
Dengan demikian, ketika ada Qardh wal Ijaarah atau Qardh Tsummal Ijaarah dan sejenisnya, yang mana Qardh-nya TIDAK MENSYARATKAN adanya Ijarah, maka Qardh wal Ijaarah-nya HALAL.
 
Praktik
 
Saya tegaskan lagi, dalam tataran praktik, perhatikan: (1) jika ada PERNYATAAN dalam SOP sampai BERKAS AKAD yang MENSYARATKAN adanya Ijarah karena Qardh-nya, maka inilah Qardh wal Ijarah yang Riba. (2) Jika pada BERKAS AKAD kok TIDAK ADA SYARAT Ijarah atas Qardh-nya, maka Qardh wal Ijarah-nya HALAL.
 
Akad campur
 
Gimana dengan teknis pemberkasan akadnya? | Pisah aja. Akad pinjaman dipisah lembar dengan lembar akad Ijarah. Dua akad berbeda walau di satu bendel. Nasabah tanda tangan dua akad. Kalaupun mau ditempatkan di satu lembar, dibuat saja bolak balik, muka depan untuk qardh dan bertandatangan, muka belakang untuk ijarah dan bertandatangan. Akadnya berarti udah pisah.
 
Ini fikih
 
Ini fikih. Ini bukan tashowwuf. | Ini fikih. Urusan Zhahir. Fikih hanya menilai Zhahir. Ketika dari sisi Zhahir sudah sesuai Syariah, maka secara Fikih bisa disebut sudah sesuai Syariah.
 
Jadi..
 
So far bisa dilihat bahwa Qardh wal Ijarah yang diterapkan pada Lembaga Keuangan Syariah di Indonesia adalah halal dalam tataran Fatwa, halal juga dalam ranah praktik termasuk pemberkasan. Halal.
 
Contoh penerapan Qardh wal Ijarah adalah pada produk Gadai Syariah, Talangan Haji, Pembiayaan Multijasa, dan lainnya. Halal.
 
WaLlaahu a’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here