Logika Ta’rif

0
45
views
Oleh: Ahmad Ifham Sholihin, DPP Ikatan Ahli Ekonomi Islam | www.AmanaSharia.com
 
Dalam Ushul Fiqh, ta’rif sangat urgent sebelum beristinbath [menentukan hukum]. Ta’rif [pengertian atau pengenalan] makna kata diawali dengan pemaknaan arti kata secara leksikal dari istilah yang akan dibedah ta’rif-nya.
 
Sia-sia, jika Anda memahami sebuah case dan membedah logika fikihnya, namun setelah di-ta’rif ternyata tidak sesuai yang Anda maksud.
 
Contoh ta’rif, misalnya memaknai kata investasi. Investasi, dalam Bahasa Indonesia atau Kamus Besar Bahasa Indonesia [KBBI] meliputi unsur adanya modal yang diberikan kepada pengusaha dalam rangka menjalankan proyek tertentu dan bertujuan untuk memperoleh keuntungan. Dalam bahasa Arab, investasi disebut Mudharabah. Kongsi modal usaha. Definisinya sama dengan versi KBBI. | Coba gabungkan kata investasi dengan emas. Kira-kira maknanya cocok nggak?
 
Contoh lain, penggunaan kata mahal atau murah. Mahal atau murah akan ada jika ada nilai atau harga di angka nominal tertentu. Karena bicara harga, maka istilah mahal atau murah akan muncul pada transaksi jual beli. | Jika ada transaksi yang bukan merupakan transaksi jual beli kok disebut murah atau mahal, nyambungkah?
 
Contoh lain, misalnya muncul harapan publik agar Bank Syariah bisa 100% murni syariah. | Coba perhatikan dulu apa ta’rif dari 100% murni syariah? Apakah yang sudah memenuhi rukun dan syarat akad atau gimana? Coba definisikan dulu apa makna 100% murni syariah, dalam definisi operasional, agar jelas maksudnya, agar nggak ngoyoworo (mengada-ada).
 
Urgensi
 
Ta’rif akan menentukan akurasi makna. Ta’rif akan menentukan akurasi hukum. | Apalagi jika istilah yang akan dita’rif tersebut adalah istilah pada Alquran atau Hadits. Yang saya pahami, untuk Alquran aja ada minimal 96 tafsir dan/atau sudut pandang dalam memaknai dan menafsirkan ayat. Sudut pandangnya bisa beda-beda. Dalam rangka ta’rif.
 
Betapa luar biasanya dampak ta’rif dalam menentukan hukum. | Jika ta’rifnya salah, dan jika penggunaan istilah-nya tidak tepat, maka insya Allah tidak mungkin penentuan hukumnya akan benar.
 
Jangan sepelekan ta’rif. Ialah kunci utama penentu istinbath (penentuan) hukum.
 
waLlaahu a’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here