Penerapan Bay’ Inah di Indonesia

0
103
views
Oleh: Ahmad Ifham Sholihin, DPP Ikatan Ahli Ekonomi Islam | www.AmanaSharia.com
 
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
 
إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِيْنَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيْتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُـمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَيَنْزِعُهُ شَيْئٌ حَتَّى تَرْجِعُواْ إِلَى دِيْنِكُمْ.
 
“Apabila kalian melakukan jual beli dengan cara ‘inah, berpegang pada ekor sapi, kalian ridha dengan hasil tanaman dan kalian meninggalkan jihad, maka Allah akan membuat kalian dikuasai oleh kehinaan yang tidak ada sesuatu pun yang mampu mencabut kehinaan tersebut (dari kalian) sampai kalian kembali kepada agama kalian.”
 
Skema
 
Skema sederhananya diilustrasikan dengan contoh A jual rumah ke B seharga 150 juta dibayar secara angsuran 10 tahun. Setelah itu B jual rumah ke A seharga 100 juta dibayar tunai.
 
Pendapat Melarang
 
Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam Malik berpendapat bahwa Bay Inah ini dilarang sama sekali. Pertimbangannya adalah karena ada modus memanipulasi Riba dalam bentuk jual beli.
 
Pendapat Membolehkan
 
Imam Abu Hanifah memperbolehkan skema Bay Inah ini dengan syarat ada perantara pihak ketiga. A jual ke B, B jual ke C.
 
Sementara itu, Madzhab Syafii dan Zhahiri berpendapat bahwa Bay Inah ini boleh. Allah menghalalkan jual beli (yang dilawankan dengan) Allah mengharamkan Riba. Secara alfaazh wal mabaanii, Bay Inah adalah akad Jual Beli.
 
Asy Syafii terang saja membolehkan, apalagi beliau punya kaidah dalam penentuan hukum, yakni:
 
العبرة في العقود بالالفاظ والمباني لا بالمقاصد والمعاني
 
“Menghukumi sesuatu itu berdasarkan lafazh dan alur akadnya, bukan dari maksud dan maknanya.” Maksud dan maknanya biar jadi urusan pelaku sama Allah, yang penting dari sisi alfaazh-nya sudah sesuai.
 
Bay Inah di Indonesia
 
Bay Inah diterapkan di Indonesia, misalnya untuk mengakomodir take over pembiayaan dari Bank Konven ke Bank Syariah. Fatwanya ada. Fatwa DSN MUI tentang Hawalah. DSN MUI mengungkap empat alternatif, salah satunya menggunakan Bay Inah. | Skemanya, Bank Syariah ngasih pinjaman ke Nasabah untuk melakukan pelunasan kredit di Konven. Kemudian Nasabah bayar hutang pinjaman di Bank Syariah dengan menjual Aset ke Bank Syariah senilai yang dipinjamnya. Kemudian Bank Syariah menjual kembali Aset ke Nasabah. Bay Inah. Dua jual beli dalam satu jual beli. Boleh menurut DSN MUI.
 
Bay Inah juga diperbolehkan oleh DSN MUI pada skema Sukuk Ijarah Sale Lease Back and Sale Back. Fatwanya ada. | Skemanya, Negara menerbitkan Sukuk dengan menjual Aset ke Masyarakat. Kemudian Negara menyewa Aset milik masyarakat. Ada janji, setelah sewa berakhir, masyarakat menjual kembali Aset ke Negara. Bay Inah. Dua jual beli dalam satu jual beli. Boleh menurut DSN MUI.
 
Bay Inah KPR
 
Mungkinkah Fatwa DSN MUI membolehkan Bay Inah untuk KPR Syariah? | Mungkin saja. Silahkan Lembaga Keuangan Syariah mengajukan permohonannya.
 
Risk Management
 
Hanya saja, dari sisi manajemen risiko, Bay Inah pada produk KPR Syariah, cukup berisiko, terutama dari sisi Manajemen Pembiayaan.
 
Jika Aset semula milik Bank Syariah, kemudian sempet menjadi milik Nasabah dan langsung diarahkan menjadi milik Bank Syariah lagi, maka yang terjadi berikutnya Nasabah tidak memiliki Aset yang diagunkan. | Padahal nature Bay Inah dalam KPR Syariah ini memang menyebabkan adanya Pembiayaan Tanpa Agunan Bukti Kepemilikan Aset.
 
Dalam konteks mental masyarakat Indonesia, ini berisiko tinggi, karena tidak ada kolateral. Meskipun begitu, hal ini bisa diatasi dengan menetapkan syarat ketat misalnya yang bisa memperoleh pembiayaan ini misalnya adalah orang berpenghasilan tetap dari instansi pemerintah, seperti Pegawai Negeri Sipil, plus maksimal pembiayaan di angka tertentu yang tidak signifikan. Itu misalnya.
 
Jadi, jika ingin menerapkan Bay Inah untuk skema KPR Syariah, agar dipastikan lagi mitigasi risikonya. | Apalagi, ketika dana hasil pembiayaan Bay Inah ini dipake untuk beli rumah secara cash dari Developer, maka Nasabah punya Aset dan Bukti Kepemilikan Aset yang bisa dipake untuk mengajukan Pembiayaan baru lagi, misalnya Kredit di Bank Konven. Itu misalnya. Jadi, mitigasi risikonya harus diperkuat.
 
Multiguna
 
Atau, Bay Inah bisa diterapkan untuk pembiayaan Multiguna dengan Plafond Pembiayaan yang tidak besar, setara dengan Pembiayaan Tanpa Agunan Bukti Kepemilikan Aset, namun tetap pake Agunan misalnya SK Pegawai Negeri atau pake agunan lain yang masih memungkinkan dilakukannya Pembiayaan Tanpa Agunan Bukti Kepemilikan Aset.
 
Simpulan
 
Demikian tentang penerapan Bay Inah di Indonesia. Bay Inah diperbolehkan di Indonesia dalam 2 kondisi/produk, yakni Take Over dan Sukuk. Tidak menutup kemungkinan Bay Inah diperbolehkan khusus untuk KPR Syariah baru atau Pembiayaan Multiguna. Ajukan saja Fatwa-nya.
 
لا ينكر المختلف فيه وانما ينكر المجمع عليه
 
“Jangan ingkari sesuatu yang diperselisihkan (Imam Mujtahid), dan sungguh (silahkan) mengingkari (pengingkaran) sesuatu yang sudah disepakati (Imam Mujtahid).” | Jangan memperdebatkan halal haramnya sesuatu yang diperselisihkan Imam Mujtahid (Imam Madzhab). Bisa fokus di sisi manajemen risiko aja.
 
WaLlaahu a’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here