Tabrakan Agama VS Sains

0
109
views

Oleh: Ahmad Ifham [Alumni Psikologi UGM]

Agama saya, adalah agama yang hadir berdasarkan wahyu. Agama saya, diturunkan lewat Kitab Suci Alquran, melalui Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad SAW [yang nggak bisa baca tulis itu]. | Begitu pula dalam konteks agama lain, akan ada hal yang tidak bisa serta merta dibuktikan secara ilmiah [sains].

Sedangkan Sains itu, sederhana-nya adalah ilmu pengetahuan [yang ilmiah], buatan manusia. Serba ilmiah. Serba ilmiah ala manusia sesuai zamannya. Tolok ukur ilmiah zaman old pun jelas bisa beda dengan tolok ukur ilmiah zaman now.

Sumber sains

Agama itu hadir melalui sebuah wahyu. Sebuah wahyu rasanya tak mungkin bisa didefinisikan secara sains. Tapi bukan tidak mungkin sains bisa meng-ilmiah-kan ajaran agama yang semula serasa di luar nalar manusia.

Ayat yang pertama turun adalah iqra`, bacalah. Itu-lah modal awal sains. |
Agama bisa jadi sumber sains. Agama bisa jadi sumber kekuatan untuk melakukan penelitian di berbagai bidang. Agama bisa membuat curiousity bagi nalar untuk mengembangkan sains.

Bagi saya, agama adalah sumber sains. Jika Anda ingin bilang bahwa sumber sains adalah semesta realitas yang dikawinkan dengan daya nalar, silahkan saja.

Tabrakan

Namun, RASANYA [pake perasaan nih], tak usahlah menabrakkan agama dengan sains. Agama punya ranah sendiri, sains punya ranah sendiri. SINERGI aja. Agama hanya mempercepat logika manusia dalam melakukan inovasi bidang sains. Isra Mi’raj bisa jadi adalah inspirasi pembuatan pesawat luar angkasa, atau bahkan bisa saja ada teknologi yang menyebabkan manusia mudah terbang. Gara-gara ajaran agama.

Mana yang benar?

Sebenarnya, mana yang benar, dan mana yang tidak benar? Agama atau Sains? | Saya akan bilang bahwa ajaran agama pasti benar dalam ranah keimanan. Saya pun akan bilang bahwa sains pasti benar dalam ranah sains.

Kebenaran dalam bidang agama, bagi saya adalah mutlak, tidak bisa saya revisi. | Kebenaran di bidang sains, bagi saya adalah relatif, karena jelas bisa direvisi.

Jika anda punya ide untuk merevisi ajaran agama, itu hak manusia berakal. Namun, bagi saya, itu ngoyoworo bin sia-sia alias tiada guna positif. | Akan menarik jika anda para peneliti melakukan penelitian dengan klu-klu yang sudah diberikan oleh ajaran agama. Ini bagi saya sangat menarik. Sudah enak dibuatkan klu oleh Tuhan. Tinggal kita mau mikir atau enggak. Ini pun kata Tuhan.

Teori Evolusi

Contoh, ketika saya melihat Teori Evolusi, maka saya akan yakin bahwa teori ini perlu didudukkan lebih dalam lagi jika ingin saya kaitkan dengan ajaran agama. | Bisa jadi teori Evolusi adalah cikal bakal spesies jenis manusia yang tidak akan mungkin bisa sempurna sampai munculnya Adam yang menurut ajaran agama saya adalah turun dari surga. Rumus ini biasanya oleh orang awam dianggap sebagai DOGMA STAGNAN. Padahal, bisa jadi, ini KODE LUAR BIASA DARI TUHAN agar kita terus menggali dari sisi sains tentang asal usul manusia yang oleh agama sudah digariskan melalui Adam.

Namun, ketika saya memahami Teori Evolusi dari ranah sains, maka saya akan menganggap bahwa Teori Evolusi ini SANGAT ILMIAH. Dari sisi sains. Meskipun, bisa jadi suatu ketika akan muncul Teori Evolusi yang secara ilmiah berlawanan dengan Teori Evolusi ala Darwin. Jelas sangat mungkin terjadi, KECUALI jika Anda menganggap bahwa Teori Evolusi Darwin adalah AJARAN AGAMA. Tentu Anda nggak mikir begitu kan.

Sains BUKAN Agama

Sains adalah Sains. Agama adalah Agama. | Definisi Sains bukanlah Agama. Definisi Agama bukanlah Sains. Agama jadi sumber Sains. Sinergi aja.

Saya ulang, Teori Evolusi Darwin bukan ajaran agama. Teruslah mencermati klu Tuhan bahwa manusia pertama adalah Adam. Lakukan penelitian terhadap kehadiran Teori Evolusi. | Sinergikan urusan Sains dan Agama.

Kodifikasi

Sains ini kan urusan KODIFIKASI. Sesuatu yang sejatinya ngawur dari sisi kebenaran sejati, namun ketika TERFAKTA berhasil dikodifikasikan dalam bentuk penelitian ilmiah, jurnal, dan sejenisnya, maka sains ini DIANGGAP SUDAH BENAR. Padahal bisa jadi sejatinya ngawur. Itu mungkin saja terjadi.

Agama, ada kodifikasi-nya, yakni mush-haf. Muah-haf Alquran itu sendiri adalah BID’AH KELAS KAKAP. Mush-haf Alquran adalah inovasi manusia masa Khalifah Abu Bakar Ash Siddiq. Tentu saja kodifikasi ini melalui proses yang tidak sederhana, melibatkan para penghafal Alquran di masa itu. Selama berabad-abad, tidak ada yang bisa merevisi Mush-haf Alquran. Dari sudut pandang apapun [di Agama saya].

Validitas Sains

Saya saat ini di DPP Ikatan Ahli Ekonomi Islam [IAEI] bidang Penelitian dan Pengembangan Ilmu Ekonomi Islam, bersama 10 Doktor dan 2 Master bidang Ekonomi. Sepemahaman saya mencermati riset di bidang Ekonomi, ada saja penelitian ilmiah level Disertasi yang salah, namun lolos dari pengamatan Sang Profesor. Bahkan untuk level S1, banyak sekali penelitian yang seenaknya sendiri, namun lulus secara ilmiah. Saya pun menemukan Tesis yang salah, namun lulus secara ilmiah dan akademik.

Saya konfirmasi hal seperti ini ke Guru Metodologi Penelitian, memang benar, bahwa tidak menutup kemungkinan sebuah penelitian ilmiah itu salah. Tugas manusia berikutnya yang mbenerin penelitian itu.

Simpulan

Sains dan Agama sinergi aja, Tak usah dibenturkan. | Saran saya, jadikan dogma agama sebagai inspirasi sumber Sains. Bacalah!

waLlaahu a’lam

Previous articleAgenda
Next articleEksotisme Beragama
SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here