Eksotisme Beragama

0
314
views

Oleh: Ahmad Ifham, S.Psi.

Agama saya [Islam], punya 3 ajaran: [1] aqidah [keyakinan], [2] akhlaq [etika & estetika], dan [3] syariah [hukum/aturan]. | Ketiganya tidak mungkin bisa dipisahkan jika ingin mencapai harmoni, cinta, kasih, damai.

Jika logika agama disetarakan dengan logika dogma, maka agama kami menyajikan tiga dogma: [1] dogma keyakinan, [2] dogma etika & estetika, [3] dogma aturan. | Jadi, agama [Islam] bukan sekedar urusan aqidah, bukan sekedar akhlaq, dan jelas bukan sekedar urusan Syariah.

[1] Urusan Aqidah, jelas ini urusan keyakinan, urusan iman. Titik. Namun, Ulama klasik mendefinisikan Iman dengan tashdiiq bi al qalb [meyakini dalam hati], lanjut iqraar bil lisaan [ikrar lisan], lanjut lagi dengan ta’malu bil arkaan [berbuat dengan rukun-rukun alias aksi konkret atas apa yang diajarkan dalam Alquran dan Hadits serta dalil terkait lainnya]. Jadi, ternyata definisi operasional aqidah pun nggak hanya sekedar keyakinan. Sampai tindakan nyata atas titah zat yang diyakini.

[2] Urusan Akhlaq, bisa dicek definisi ihsan. Ihsan adalah berbuat baik, seakan-akan Tuhan tidak tahu bahwa kita berbuat baik, dan ketika kita berbuat baik, sesungguhnya Tuhan Maha Tahu bahwa kita berbuat baik. | Mari ber-etika dan ber-estetika tanpa pamrih. Itu.

[3] Urusan syariah [dalam definisi aturan yang tercantum dalam Alquran dan Hadits] ini jelas final, nash tersebut tidak bisa diubah. Namun urusan pemahaman dan implementasi terhadap syariah, ini yang sangat dinamis, ini urusan akal manusia. | Contoh sederhana, di Kitab Bidaayah al Mujtahid wa Nihaayah al Muqtashid karya Ibnu Rusyd [Averous] yang ditulis pada masa Spanyol klasik, sudah dinyatakan kebolehan makan daging halal [matang] yang disembelih tanpa menyebut nama Allah [padahal orang awam tahunya MUTLAK WAJIB nyebut nama Allah]. Itu zaman old. Apalagi aturan-aturan zaman now. Akan sangat dinamis.

Untuk memahami itu semua dengan arif, bijak, penuh hikmah, maka perlu menguasai semua ilmu terkait aqidah, akhlaq dan syariah tersebut secara komprehensif. | Pemahaman sepotong-potong terhadap Islam, bisa menghadirkan kesan radikalnya Islam.

waLlaahu a’lam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here