Nasabah Menggugat?

0
273
views

Oleh: Ahmad Ifham Sholihin, Amana Sharia Consulting | www.AmanaSharia.com

Dialog di Komunitas Bankir Syariah [KBS Nusantara 02].

[15:16, 27/12/2017] AKML: Temen2 mohon info donk terkait pembiayaan murabahah,

Apakah ada kasus komplen nasabah yang menggugat hal tsb, misal

1. Uang muka sdh dibayar nasabah ke pemilik barang

2. Akad wakalah d Ttd berbarengan dg murabahah, sehingga barang blm dimiliki secara prinsip oleh bank

3. Menggugat klausula denda pada akad krn dianggap riba

4. Nasabahnya terima dana tunai bukan jual beli barang.

[20:33, 27/12/2017] Annisa Ida Ariyani: Ini biasanya ada di produk KPR Syariah

1. Jika Nasabah sudah terlanjur setor uang muka ke Developer, maka bisa diadakan akad ulang antara Nasabah, Developer, dan Bank Syariah. Seperti yang disampaikan pak Ifham di video ini.

2. Pertama, ttd akad wakalah terlebih dahulu. Kedua, setelah itu ttd akad murabahah.

3. Dari Fatwa DSN MUI No. 17 Tahun 2000, Nasabah Mampu yang menunda-nunda pembayaran, boleh dikenakan sanksi berupa denda. Asalkan denda ini tidak dimasukkan ke pos pendapatan bank syariah, melainkan di alokasikan ke pos dana sosial/dana kebajikan.

*)
Bank Syariah boleh mengenakan denda. Bank Syariah boleh tidak mengenakan denda.

4. Maksudnya bagaimana ya Pak? 🙏🏻

[20:35, 27/12/2017] AKML: Murabahah Ttd, barang blm ada, uang cair

[20:36, 27/12/2017] AKML: Kalo pemilik tanahnya di daerah sementata bank nya beda Kabupatén

[22:41, 27/12/2017] Ahmad Ifham Sholihin: Solusi:

[1]

Ketika uang muka sudah terlanjur dibayar nasabah ke pemilik barang, tinggal diulang aja akadnya. Jika ketemuan langsung kok repot, minimal cukup bikin grup WA aja bertiga (bank syariah, developer, nasabah), ulang aja akadnya, yakni Bank Syariah mewakilkan kepada Nasabah untuk melakukan pembelian ke Developer, abis itu akad murabahah antara Bank Syariah dengan Nasabah.

DP yang sudah terlanjur ditransfer ke Developer tadi seharusnya adalah DP nasabah ke Bank Syariah, sehingga tegaskan aja DP tersebut adalah DP Bank Syariah ke Developer yang diwakili Nasabah. Tidak perlu transfer balik atau transfer ulang. Sudah, duitnya tetap di Developer. Transfer mentransfer bukan rukun akad.

Secara perjanjian legal yang digunakan adalah wakalah dan murabahah. Akadnya sudah bener.

Wakalah ini solusi cerdas ala MUI untuk mengakomodir pencatatan pembenaran yang benar atas pentransferan dana ke rekening nasabah (yakni) via wakalah.

Wakalah ini juga mempertegas SAH-nya AJB dari Developer ke Nasabah (sebagai wakil Bank Syariah).

Wakalah ini pun mempertegas alasan logis balik nama dari Developer ke Nasabah (sebagai wakilnya Bank Syariah).

Ketika Murabahah terjadi, nggak perlu lagi ada pengubahan AJB dan Balik Nama. Enak kan. Sudah dipikirin sama DSN MUI.

Kalau mau pake Murabahah TANPA Wakalah, rasanya malah rumit, karena LOGIKANYA akan berdampak pada pentransferan pencairan dana dari Bank Syariah ke developer dan AJB yang nggak to the point dari Developer ke Nasabah (karena tanpa wakalah itu). Tentu saja mau pake Murabahah tanpa wakalah, secara syariah juga boleh. Kalau bisa, pake Wakalah aja deh.

[2]

Tanda tangan wakalah dan Murabahah beda 1 menit ya nggak apa-apa, asalkan tanda tangannya adalah WAKALAH DULUAN baru Murabahah, sehingga jelas Bank Syariah menjual barang yang terlebih dulu SAH jadi milik (via wakalah).

Tolok ukur barang sah jadi milik adalah terpenuhinya rukun akad. Dengan wakalah ditandatangani, maka sah sudah barang jadi milik Bank Syariah, lanjut dijual via Murabahah ke Nasabah. Cerdasnya DSN MUI bikin solusi.

[3]

Denda telat bayar dianggap Riba. Itu siapa yang ngajarin?

Denda telat bayar di Bank Syariah yang dalam definisi PENALTY kan WAJIB masuk pos Dana Sosial atau Dana Kebajikan. Jelas ini ada MANFAAH yang TIDAK dimakan pemberi pembiayaan. Gimana bisa disebut ada Riba?

Makanya dalam Fatwanya terkait denda telat bayar, DSN MUI nggak pake dalil terkait Riba Nasiah, karena memang TIDAK ADA RIBA-nya.

Dalil yang ada adalah Al Maidah Ayat 1 sebagau Grand Ayat bahwa semua pihak wajib taat akad. Jika nasabah tidak taat akad, maka ada dua hadits shahih yang membela Fatwa DSN MUI dalam mengenakan denda telat bayar.

Denda telat bayar di LKS kok Riba, siapa yang ngajarin? | Pahami prosedur legal formal alur denda, agar bisa paham logikanya.

[4]

Nasabah terima dana tunai? | Bagus dong. Berarti Bank Syariah TAAT ATURAN WAKALAH. Dana cair tunai ke rekening Nasabah sebagai wakilnya Bank Syariah buat beli rumah ke Developer. Ada yang salah? DSN MUI sudah ngatur alurnya. Sah. Sangat sah.

Demikian. WaLlaahu a’lam

[22:44, 27/12/2017] Ahmad Ifham Sholihin: Tambahan.

Jika Nasabah terima dana tunai, selanjutnya ya tugas Nasabah beliin barangnya. Beliin beneran. Beneran beli. Barangnya datengnya nanti ya nggak apa-apa asal jelas spesifikasi barang termaksud. Jangan lupa minta kuitansi.

Jika Nasabah nggak beli barangnya beneran, berarti Nasabah yang zhalim. Bukan Bank Syariah-nya.

[22:53, 27/12/2017] AKML: Akad murabahah d Ttd, nasabah terima uang 💵. Lalu apa yg diperjuangkan.

Ngasih pinjem uang atau jual beli barang.

[22:53, 27/12/2017] AKML: Lalu apa yg diperjualbelikan

[22:53, 27/12/2017] Ahmad Ifham Sholihin: Perjanjian legalnya bunyinya gimana pak?

[22:54, 27/12/2017] AKML: Murabahah kan jual beli yah,

[22:55, 27/12/2017] Ahmad Ifham Sholihin: Ada kaidah fikih, الكتاب كالخطاب sehingga cek dulu perjanjian tertulisnya jika ada. Cek aja apa akadnya? Jika akadnya jual beli, apa objek akadnya?

[22:56, 27/12/2017] Ahmad Ifham Sholihin: Jika nasabah terima uang, menurut logika, ini pasti pake wakalah. Sangat sah.

[22:58, 27/12/2017] AKML: Wakalah dan murabahah di Ttd satu waktu, apa objek jual belinya

[22:59, 27/12/2017] Ahmad Ifham Sholihin: Tinggal cek aja, apa objek jual belinya. Pasti ada dong di akad.

Jika barangnya saat itu belum ada, tinggal tentukan aja spesifikasi objek akad atau barang yang dibelinya tadi, minimal tunjukkan aja nanti belinya dimana. Logikanya, nasabah memang harus terlebih dulu MINIMAL KONTAK ke penjual/supplier terkait barang yang mau dibeli.

Perkara barangnya belum dikirim, itu tidak menyebabkan tidak sahnya wakalah.

[23:00, 27/12/2017] Ahmad Ifham Sholihin: Objeknya pasti sudah dicantumkan di akad. Jelas. Tanda tangan di satu waktu ya khayal pak. Pasti ada yang ditandatangani duluan. Solusinya ya tanda tangan wakalah duluan.

[23:01, 27/12/2017] Ahmad Ifham Sholihin: Clear pak.

[23:03, 27/12/2017] Ahmad Ifham Sholihin: Rukun jual beli: 1. Penjual. 2. Pembeli. 3. Objek (jelas spesifikasinya dan ada di toko tertentu yang sudah dikontak nasabah). 4. Ijab qabul (termasuk urusan harga).

Sah.

[23:04, 27/12/2017] AKML: Mas Ifham mau beli semen, paku, batu bata, pasir, dll

Datang k bank, kata bank saya gk pak barang itu mas Ifham. Ini saya kasih kuasa yah ke mas Ifham utk belikan yg tadi mas Ifham butuhkan.
Dikasih lah mas Ifham kuasa oleh bank.

Baru satu menit, blm hubungi matrial karna sdh tutup, lalu mas Ifham dipanggil lagi sama bank nya.

Mas Ifham sekalian deh tanda tangan akad murabahah nya, tadi barang yg mas Ifham butuhkan jadi milik saya yah.

(apakah sdh sah murabahah nya).

[23:05, 27/12/2017] AKML: Saya tanya ini, apakah secara prinsip barang sdh dimiliki bank?

[23:10, 27/12/2017] Ahmad Ifham Sholihin: Kontak toko matrialnya untuk beli paku, semen, dll sebelum tanda tangan akad Murabahah, atau, sebelum tanda tangan wakalah juga oke.. Pas abis tanda tangan wakalah, tinggal WA atau telpon ke pihak toko matrial bahwa nasabah jadi beli barang2 termaksud. Abis itu langsung tanda tangan akad Murabahah.

Solved.

[23:11, 27/12/2017] AKML: Jika tdk kontak, tapi akad murabahah di Ttd. Sah kah akad murabahah?

[23:15, 27/12/2017] Ahmad Ifham Sholihin: Jika sebelumnya tidak kontak dulu ke supplier kok nasabah sudah tanda tangan AKAD murabahah, maka alur PRAKTIK murabahahnya tidak sah, karena murabahah dijalankan setelah rukun wakalah terpenuhi. | Case ini terjadi khusus jual beli barang non KPR atau KKB ya. Biasanya beli barang pernik-pernik (printilan) gitu. Klo rumah atau mobil kan pasti dah komunikasi duluan.

Dan catat baik-baik, dari sisi prosedur legal di Bank Syariahnya sudah tidak ada masalah dari sisi sahnya akad. Tinggal praktisi dan nasabahnya ngatur agar praktik sesuai prosedur yang diatur Bank Syariah.

[23:17, 27/12/2017] MSWF: Klu blm terjadi transaksi jual beli. Maka blm ada jual beli. Otomatis barang blm d beli oleh nasabah atas nama bank. Maka blm bisa d lakukan akad murabahah.

[23:18, 27/12/2017] Ahmad Ifham Sholihin: Itu tadi, solusinya, abis tanda tangan wakalah, bisa WA ke supplier untuk menegaskan jual belinya (yang dalam konteks wakalah). Jika ini tidak dilakukan, berarti PRAKTISI atau Nasabahnya yang gagal paham prosedur, bukan Bank Syariahnya yang salah.

[23:24, 27/12/2017] AKML: Kalo praktek salah, implementasi kleru, akadnya sah nda?

[23:29, 27/12/2017] Ahmad Ifham Sholihin: Bank Syariahnya sudah benar, kok praktik (praktisi)nya salah, implementasi praktisinya keliru, maka akadnya tidak sah. | Dan kewajiban praktisi (yang paham) yang melihat praktisi gagal paham tersebut harus meluruskannya.

[23:30, 27/12/2017] AKML: Kalo praktek salah, implementasi kleru. Akad tdk sah.
Pendapatannya boleh diakui?

[23:32, 27/12/2017] AKML: Sepakat ust. Bagaimana jika akad murabahah nya dilakukan tanpa ada barang.

[23:32, 27/12/2017] Ahmad Ifham Sholihin: Jika akad tidak sah, maka pendapatannya (pada praktik yang tidak sah tadi), jadinya tidak sah diakui sebagai pendapatan halal.

[23:34, 27/12/2017] AKML: Berarti pendapatannya tdk halal.

OK sepakat

[23:34, 27/12/2017] Ahmad Ifham Sholihin: Jika sudah terlanjur terjadi karena kegagalpahaman praktisi, kalau saya, maafkan saja. Tugas kita yang paham untuk ngomong ke semua pihak terkait, agar kegagalpahaman praktisi tersebut tidak terulang lagi.

[23:35, 27/12/2017] Ahmad Ifham Sholihin: Praktisi gagal paham akan tergantung dari training yang gagal paham. Baik on the job trainingnya maupun training di kelas.

[23:36, 27/12/2017] Ahmad Ifham Sholihin: Catatan utama buat praktisi agar berpraktik sesuai prosedur dan aturan bank syariah.

[23:36, 27/12/2017] AKML: Pertanyaan saya,

Jika sudah berjalan 5th dari 10 tahun jangka waktu yg d sepati.

Lalu nasabah sadar, kalo begini berarti selama ini akad saya salah, yg saya lakukan jadinya pinjam meminjam.
Berarti jatuhnya riba.

Apa yg harus dilakukan?

[23:37, 27/12/2017] Ahmad Ifham Sholihin: المشقة تجلب التيسير

[23:38, 27/12/2017] MSWF: Tdk sah krn tdk memenuhi rukun dan syarat jual beli

[23:38, 27/12/2017] AKML: سؤالي لكم ، ما هي الحلول؟

[23:39, 27/12/2017] Ahmad Ifham Sholihin: Kalau saya jadi pimpinan di Bank Syariah tersebut maka akan merujuk pada perjanjian legal. Saya yakin berkas legalnya sudah sah.

[23:40, 27/12/2017] Ahmad Ifham Sholihin: Dan saya akan tegaskan dengan keras kepada tim praktisi agar taat prosedur.

[23:40, 27/12/2017] AKML: I am agree, di maafkan. Tapi apakah selesai sampe dg di maafkan?

Bagaimana akad yg bâthil tadi posisinya?

[23:40, 27/12/2017] MSWF: Sy pernah bahas ini. Nasabah tetap wajib mengembalikan dana pokok saja. Jika dia mengembalikan lbh tanpa terikat. Hukumx boleh sebagai tabarru’

[23:41, 27/12/2017] AKML: أنا موافق 👍

[23:41, 27/12/2017] MSWF: Ini sama dg kasus mudharabah yg tdk sah maka otomatis jadi Qard

[23:42, 27/12/2017] AKML: Ini jelas, the next. Tapi bagaimana dg yg sdg berjalan

[23:42, 27/12/2017] Ahmad Ifham Sholihin: Saya akan minta bukti legal juga atas ketidakpatuhan praktisi terhadap prosedur bank syariah. Jika bukti legalnya sudah ada, maka nasabah akan hanya wajib mengembalikan sebesar pokok. Jika bukti legal tidak ada, nasabah tetap wajib bayar sebesar total kewajiban.

[23:43, 27/12/2017] Ahmad Ifham Sholihin: Kaidah الكتاب كالخطاب

[23:44, 27/12/2017] AKML: Nda perlu muter2 mas Ifham, tadi kan sdh disepakati bahwa implementasinya salah.

Tinggal gmn solusi dari mas Ifham.

Saya setuju dg ust Wafi

[23:44, 27/12/2017] Ahmad Ifham Sholihin: Saya akan minta bukti legal juga atas ketidakpatuhan praktisi terhadap prosedur bank syariah. Jika bukti legalnya sudah ada, maka nasabah akan hanya wajib mengembalikan sebesar pokok. Jika bukti legal tidak ada, nasabah tetap wajib bayar sebesar total kewajiban.

[23:45, 27/12/2017] Ahmad Ifham Sholihin: Jika ada tuduhan implementasi salah, maka harus ada bukti legal. Tidak boleh tidak.

[23:45, 27/12/2017] AKML: Skrg sdh terang benderang, jelas praktek nya keliru.

What is solution?

[23:45, 27/12/2017] Ahmad Ifham Sholihin: Saya akan minta bukti legal juga atas ketidakpatuhan praktisi terhadap prosedur bank syariah. Jika bukti legalnya sudah ada, maka nasabah akan hanya wajib mengembalikan sebesar pokok. Jika bukti legal tidak ada, nasabah tetap wajib bayar sebesar total kewajiban.

[23:47, 27/12/2017] Ahmad Ifham Sholihin: Kaidah الكتاب كالخطاب

Saya hanya menegaskan konteks case ini harus serba legal formal aja. Agar judgement tidak liar.

[23:48, 27/12/2017] AKML: Pertanyaan saya jika semua dpt dibuktikan, bahwa praktek salah, implementasi kleru.

Berarti akad murabahah batal, otomatis akad hanya Qardh

[23:51, 27/12/2017] AKML: Mungkin kah pada akad murabahah terjadi side streaming

[23:53, 27/12/2017] Ahmad Ifham Sholihin: Setuju. Jika secara legal terbukti praktisi tidak sesuai prosedur, maka murabahah batal. Jadinya qardh. Dan jelas mungkin saja terjadi side streaming pada murabahah.

[00:10, 28/12/2017] Ahmad Ifham Sholihin: Tambahan..

Yang pasti (jika normal), secara legal formal, materi akad atau perjanjiannya sudah sah. Tinggal nasabah memberikan BUKTI PELANGGARAN yang dilakukan praktisi, agar tidak jadi fitnah.

Jika PELANGGARAN DILAKUKAN NASABAH (yakni nasabah melakukan side streaming), berarti nasabahnya yang zhalim dan tetap harus menanggung SEMUA kewajiban akad.

[00:14, 28/12/2017] Ahmad Ifham Sholihin: Semoga ke depan, Nasabah dan praktisinya on the track. Amin.

Previous articleEksotisme Beragama
SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here