Modal Halal Modal Haram

0
93
views

Oleh: Ahmad Ifham Sholihin

Mari mikir lebih jernih, hilangkan dulu sekat-sekat subjektivitas level akut. Kita bahas transaksi. Transaksi Muamalah. Misalnya dagang, kongsi, dan sejenisnya. Secara objektif ya. Janji ya.

Dalam transaksi, terutama transaksi Muamalah, tak ada rukun dan syarat yang mengharuskan transaksi halal itu orangnya harus mukmin atau muslim. | Jika transaksi halal itu sah jika dan hanya jika dilakukan oleh orang Islam saja, maka ruwetlah dunia Islam. Kacaulah dunia Islam. Orang Islam masih terlalu banyak bergantung pada bisnisnya orang Yahudi, Nasrani, dan lain-lain.

Transaksi yang dilakukan orang kafir atau yahudi atau nasrani, tetap halal jika memenuhi rukun dan syarat transaksi. Rukun transaksi kan ada pihak yang berakad, ada objek akad, ada ijab kabul akad. Syaratnya ya jangan zhalim jangan gharar.

Modal Bank

Kali ini fokus bahas Modal Bank ya. Terutama Modal Bank Syariah yang berasal dari Bank Induknya yakni Bank Konven alias Bank Riba.

Ternyata. Ternyata, Transaksi di Bank Konven ada juga sisi halalnya, tentu pake logika jika maka. Contoh, jika Anda punya saldo [MODAL untuk disalurkan] di Bank Konven, maka otomatis saldo Anda dipergunakan pesta Riba. Secara sistemik. Jadinya haram. | Namun, jika dana Bank Konven adalah dari pos MODAL, maka statusnya adalah Netral, sampai MODAL tersebut ditransaksikan.

Jika Modal Bank Konven dipergunakan untuk transaksi Haram, maka statusnya jadi haram. Jika Modal Bank Konven dipergunakan untuk transaksi Halal, maka statusnya jadi halal.

Pemastian

Luar biasanya Bank Konven dalam hal permodalan ini adalah karena ia berhasil memilah secara tertulis, sehingga akurat, valid dan bisa dipastikan bahwa status MODAL Bank Konven adalah MODAL atau penyertaan yang adalah pos netral. Bank Konven punya pencatatan akuntansi yang valid. Jelas alur dananya. Yufarriq al halaal min al haraam. Benar-benar bisa dipihah mana alur dana halal dan alur dana haram.

Nasabah Haram?

Malah justru yang BELUM JELAS atau bahkan TIDAK JELAS PASTI adalah, dari mana sih dana yang disetorkan Nasabah ke Bank Syariah? Nasabah itu kan macem-macem. Ada Guru, Kyai, Mahasiswa, Pemabok, Ustadz, Pelacur, Presiden, Penjudi, Koruptor, dan berbagai jenis manusia.

Malahan, semua Nasabah tersebut tidak punya pencatatan akuntansi atas dana pribadi, Tidak ada. Sehingga status dana-nya malah tidak bisa langsung diperjelas. Lebih layak dicurigai. Status dana-nya tidak lebih jelas dibandingkan status MODAL Bank Konven yang jelas pencatatan akuntansinya adalah di pos MODAL atau Penyertaan.

Dan perhatikan sekali lagi, status nasabah Bank Syariah adalah shaahib al maal atau pemilik modal yang modalnya digunakan Bank Syariah dalam berbisnis. Status hukum dana Nasabahnya sama persis dengan pos MODAL Bank Konven tadi.

Rumit Dunia

Dengan demikian, ketika Anda mau meributkan masalah MODAL dari Bank Konven ke Bank Syariah yang pencatatannya jelas POS MODAL yang adalah NETRAL, sebelum Anda melakukan itu, LOGIKA sehatnya Anda harusnya mempermasalahkan satu per satu dari ratusan ribu Nasabah Tabungan, Deposito. Satu per satu harus tanya, satu per satu Anda pastikan dana-nya bukan dari transaksi haram sebelumnya. Nah, ini ruwet banget jika mau dipastikan. Itu jika Anda masih ngeributin status MODAL dari Bank Konven.

Status

Nah, status modal Bank Konven akan menjadi halal atau haram setelah ditransaksikan. Yakni, ketika terjadi akad antara Bank Konven dengan Bank Syariah terkait modal tersebut. Kalau status akadnya adalah Modal dengan syarat pengembalian hasil pasti sejumlah rupiah tertentu kepada pemodal [ra`sul maal], maka jadinya ya Riba. Tapi, jika Bank Konven ngasih modal dan akan ada deviden atau istilah mudahnya adalah bagi hasil atau bagi untung atau bagi rugi, maka ini jadi HALAL.

Bahkan

Bahkan ketika Bank Konven memodali Anda sebagai Nasabah, namun Bank Konven mau pake skema Bagi Hasil atau Jual Beli, naaaah maka Syariah sudah Bank Konven itu.

Jadi

Jadi, mbok yang muslim ini tak usahlah ribuuut aja mendebat kesyariahan Bank Syariah, padahal sudah ada Ulama Dewan khas Nusantara yakni DSN MUI. DSN MUI pun sudah punya kepanjangan tangan berupa DPS di masing-masing Bank Syariah.

Kurang apanya lagi?

Previous articleAdil, Tak Kena Denda
Next articleFitnah Sang Kyai
SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here