Syariah dan Konven Sama Saja?

Syariah dan Konven Sama Saja?

Kritikan:

“Bank Syariah dan Bank Konven, sama saja. Cuma beda istilah.”

Jawaban:

Dalam Bahasa Arab, nama atau ISTILAH atau label atau embel-embel atau cover disebut dengan asmaa`. | Coba perhatikan logika-logika di bawah ini dengan baik-baik. Silahkan cermati, mari objektif, legakan hati untuk ikhlas.

  • Kalau nama saya Ahmad Ifham Sholihin diganti dengan Ahmad Syaithon ar Rajim, pasti saya nggak mau. Itu menghina saya. Kalau nama Ahmad Ifham Sholihin diganti dengan Ahmad Dajjal Laknatullah Alayh, pasti saya nggak mau. Itu menghina saya. | Padahal cuma beda istilah saja.

==================================================

“Anda mau nama Anda diganti Dajjal? Pasti nggak mau. Padahal cuma beda istilah saja.” Ifham Quotes

==================================================

  • Saya menikah, dikasih Buku Zina, bukan Buku Nikah, pasti saya nggak mau. | Padahal cuma beda istilah saja.
  • Buat mbak-mbak, mau nggak nanti wali nikahnya bilang, “Saya zinakan anak saya …”? Pasti Anda nggak mau dibegitukan. Maunya dibilang, “Saya nikahkan anak saya …” | Padahal cuma beda istilah saja.
  • Jual Beli dan Riba, istilahnya sudah beda. Coba kalau Anda dagang, silahkan jangan sekali-kali sebut istilah jual beli, ganti aja sebutannya pake istilah Riba. Misalnya pada saat Anda ke pasar beli sayur, bilang aja, “Bu, Saya mau Riba sayurnya dong.” Atau ganti iklan Anda yang sebelumnya berbunyi “Jual Peralatan Bayi” menjadi “Riba Peralatan Bayi”. Mau? | Padahal cuma beda istilah saja.
  • Coba saja istilah di operasional dan bisnis yang dijalankan Bank Konven itu diganti persis seperti istilah dagang yang dipake Bank Syariah, maka Bank Konven tersebut HARUS BERANI membuat janji secara LEGAL FORMAL untuk siap berdagang, harus siap untuk TIDAK membiayai bisnis pesta MIRAS, pesta bisnis BABI, pesta bisnis DARAH, pesta bisnis ZINA, pesta RIBA, pesta bisnis RIBA serta pesta bisnis HARAM BERANI? | Padahal cuma beda istilah saja.
  • Perjanjian legalnya jelas jauh beda. Coba tanya ke notaris atau coba cek sendiri. Berbahasa INDONESIA Perhatikan, jika perjanjian legalnya sama, bilanglah sama. Jika perjanjian legalnya beda, bilanglah beda. Perjanjian legal berkonsekuensi HUKUM. Risikonya sesuai kata-kata yang tercantum. Bank Konven pasti juga nggak mau ganti ISTILAH HUKUM yang dipakai dalam perjanjian legalnya. Nggak siap dengan konsekuensinya. | Padahal cuma beda istilah saja.
  • KPR Bunga Fluktuatif, perjanjian legalnya mengatur secara legal agar Nasabah WAJIB TIDAK TAHU total hutangnya, karena tidak akan dicantumkan dalam perjanjian legal. Perjanjian legal, risiko legal. Hutang tapi wajib nggak tahu jumlah hutangnya berapa. Bank tanda tangan, Notaris tanda tangan, Nasabah tanda tangan. Sehat? | Padahal cuma beda istilah saja.
“Nasabah hutang, tapi Nasabah WAJIB TIDAK TAHU jumlah hutangnya berapa. Ini hanya terjadi di Bank Konvensional. | Dan itu terjadi gara-gara istilah. Cuma istilah.” Ifham Quotes
  • Allah berfirman, “wa’allama Aadama al asmaa`a kullahaa …” yang menegaskan bahwa Allah telah mengajarkan Nabi Adam as berupa nama-nama, istilah-istilah, dalam rangka Khalifah di Bumi. | Syarat mutlak jadi khalifah ya tahu istilah.
  • Anda mau makan baca bismillah, “dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”. | Lagi-lagi tentang betapa pentingnya nama atau istilah.
  • Allah punya 99 nama yang baik. Asmaul Husna | Nama. Istilah. Betapa istimewanya nama. Betapa sangat spesialnya istilah.
  • Jika nama atau istilah atau label itu nggak penting, maka profesi Lawyer atau Notaris menjadi sangat tidak penting ada. | Lha istilah dianggep nggak penting.
  • Jika nama atau istilah atau label itu nggak penting, maka fakultas hukum atau fakultas syariah menjadi sangat tidak penting ada. | Lha istilah dianggep nggak penting.Imam Syafii menghukumi transaksi dari lafazh dan alur, bukan berdasarkan maksud dan makna. Lafazh, kata-kata, ucapan, yang pasti ya itu istilah. | Apa Imam Syafii itu nggak ngerti fikih muamalah?
  • Anda sholat itu bacaannya ya begitu. Yang Anda baca itu semuanya adalah istilah-istilah dan susunan dari istilah-istilah. | Masih menyepelekan istilah?
  • Jika nama atau istilah atau label itu nggak penting, dianggap sama saja, maka istilah-istilah dalam Alquran menjadi nggak penting ada? Begitu? Lha kan Alquran itu isinya istilah-istilah. | Perhatikan, dalam Alquran itu beda panjang pendek aja maknanya bisa berlawanan arah, apalagi beda kata dalam Alquran. Fatal.
  • Coba cermati, jika Bank Syariah dianggap sama saja dengan Bank Konven, kenapa sampai muncul secara khusus, UU No. 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah? Jika dianggep sama saja, ngapain NKRI perlu repot-repot bikin Undang-undang secara khusus. | Orang legal, harusnya harus paham logika ini

Nah, setelah Anda yakin betapa urgen dan pentingnya ISTILAH, nama, label, cover, embel-embel, maka rasanya Anda akan siap untuk meyakini bahwa Bank Syariah dan Bank Konven memang dua hal yang berbeda. Secara legal formal juga sangat berbeda. | Kita bedah lagi perbedaan-perbedaannya di buku ini.

Selanjutnya, saya siapkan juga jawaban atas kritikan bahwa Bank Syariah dianggap mahal, mencekik, ribet, haram, dan sebagainya. | Saya ungkap di bagian lain dari buku ini.

Saya juga mau mengutip firman Allah tentang logika gila orang yang menyamakan Jual Beli dengan Riba. Alquran Surat Al Baqarah ayat 275:

Orang-orang yang Makan (mengambil) riba*) tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila**). Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu***) (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. orang yang kembali (mengambil riba), Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

————————————————————————————————

*) Riba itu ada dua macam: nasiah dan fadhl. Riba nasiah ialah pembayaran lebih yang disyaratkan oleh orang yang meminjamkan. Riba fadhl ialah penukaran suatu barang dengan barang yang sejenis, tetapi lebih banyak jumlahnya karena orang yang menukarkan mensyaratkan demikian, seperti penukaran emas dengan emas, padi dengan padi, dan sebagainya. Riba yang dimaksud dalam ayat ini Riba nasiah yang berlipat ganda yang umum terjadi dalam masyarakat Arab zaman jahiliyah.

**) Maksudnya: orang yang mengambil Riba tidak tenteram jiwanya seperti orang kemasukan syaitan.

***) Riba yang sudah diambil (dipungut) sebelum turun ayat ini, boleh tidak dikembalikan.

—————————————————————————————

“Kata Alquran, logika orang yang menyamakan Jual Beli dan Riba adalah kerasukan setan lantaran gila”

Contoh konkret: Orang berhutang tapi wajib tidak tahu total hutangnya berapa. Skema ini hanya terjadi di Bank Konvensional. | Ini gila. Akurat banget Alquran itu.

  • Orang berhutang tapi wajib tidak tahu total hutangnya berapa. Nasabah tanda tangan, Pincabnya tanda tangan, Notaris tanda tangan. | Ini gila berjamaah. Skema ini hanya terjadi di Bank Konvensional.

Khusus untuk ayat ini, saya sengaja akan mengutip Tafsir Ibnu Katsir yang menegaskan bahwa orang yang bilang jual beli sama dengan riba, itu seperti orang MUSYRIK. Catat ya, musyrik.

“Setelah Allah menceritakan tentang orang-orang yang berbuat kebajikan, mengeluarkan infak, membayar zakat, serta mengutamakan kebaikan dan sedekah kepada orang-orang yang membutuhkan dan kepada kaum kerabat, yang dilakukan di setiap keadaan dan waktu, kemudian dalam ayat ini Allah Swt. memulai dengan menceritakan tentang orang orang yang memakan riba dari harta kekayaan orang lain dengan cara yang tidak dibenarkan, serta berbagai macam syubhat. Lalu Allah mengibaratkan keadaan mereka pada saat bangkit dan keluar dari kubur ada hari kebangkitan.

======================================================

Allah Ta’ala berfirman: alladziina ya’kuluunar ribaa laa yaquumuuna illaa kamaa yaquumul ladzii yatakhabbathuHu asy syaithaanu minal massi (“Orang-orang yang makan [mengambil] riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran tekanan penyakit gila.”) Artinya, mereka tidak dapat berdiri dari kuburan mereka pada hari kiamat kelak kecuali seperti berdirinya orang gila pada saat mengamuk dan kerasukan syaitan. Yaitu mereka berdiri dengan posisi yang tidak sewajarnya.

—————————————————————————————

Ibnu Abbas mengatakan: “Pemakan riba akan dibangkitkan pada hari kiamat kelak dalam keadan gila yang tercekik.”

Imam Bukhari meriwayatkan dari Samurah bin Jundab, dalam hadits panjang tentang mimpi: “Maka tibalah kami di sebuah sungai, aku menduga ia mengatakan, ‘Sungai itu merah semerah darah.’ Ternyata di sungai tersebut terdapat seseorang yang sedang berenang, dan di pinggirnya terdapat seseorang yang telah mengumpulkan batu yang sangat banyak di sampingnya. Orang itu pun berenang mendatangi orang yang mengumpulkan batu itu. Kemudian orang yang berenang itu membuka mulutnya, lalu ia menyuapinya dengan batu.” (HR. Al-Bukhari).

Dan dalam menafsirkan peristiwa tersebut dikatakan bahwa ia itulah pemakan riba.

“Berhati-hatilah dari perbuatan Syirik.” Ifham Quotes

Dan firman Allah berikutnya: dzaalika biannaHum qaaluu innamal bai’ul mitslur ribaa wa ahallallaaHul bai’a wa harramar ribaa (“Keadaan mereka yang demikian itu disebabkan mereka berkata [berpendapat], sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”) Maksudnya, mereka membolehkan riba dengan maksud untuk menentang hukum-hukum Allah Ta’ala yang terdapat dalam syariat-Nya. Bukan karena mereka mengqiyaskan riba dengan jual beli, sebab orang-orang musyrik tidak pernah mengakui penetapan jual beli yang telah ditetapkan Allah swt. di dalam al-Qur’an. Seandainya hal itu termasuk masalah qiyas, niscaya mereka akan mengatakan: “Sesungguhnya riba itu sama seperti jual beli.” Tetapi dalam hal ini mereka mengatakan, “Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba. “Artinya, keduanya serupa, lalu mengapa Dia mengharamkan yang ini dan menghalalkan yang itu?

Yang demikian itu merupakan penentangan mereka terhadap syariat. Artinya, yang ini sama dengan ini, dan Dia sendiri telah menghalalkan ini dan mengharamkan yang ini.

Dan firman Allah swt. berikutnya: wa ahallallaaHul bai’a wa harramar ribaa (“Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”) Hal itu mungkin merupakan bagian dari kesempurnaan kalam sebagai penolakan terhadap mereka atau terhadap apa yang mereka katakan, padahal mereka mengetahui perbedaan hukum yang ditetapkan Allah Ta’ala antara keduanya.

======================================================

Dia Mahamengetahui lagi Mahabijaksana. Tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya dan Allah tidak dimintai pertanggungjawaban atas apa yang telah Ia kerjakan, justru merekalah yang akan dimintai pertanggungjawaban. Dialah yang Mahamengetahui segala hakikat dan kemaslahatan persoalan. Apa yang bermanfaat bagi hamba-hamba-Nya, maka Dia akan membolehkannya bagi mereka, dan apa yang membahayakan bagi mereka, maka Dia akan melarangnya bagi mereka. Kasih sayang Allah kepada para hamba-Nya lebih besar daripada sayannya seorang ibu kepada anak bayinya.

————————————————————————————–

Oleh karena itu, Dia berfirman: faman jaa-aHu mau’idhatum mir rabbiHi fantaHaa falaHuu maa salafa wa amruHuu ilallaaHi (“Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabbnya, lalu terus berhenti [dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu [sebelum datangnya larangan], dan urusannya terserah kepada Allah.”) Maksudnya, barangsiapa yang telah sampai kepadanya larangan memakan riba, lalu ia mengakhirinya ketika syariat sampai kepadanya, maka baginya hasil muamalah terdahulu.

“Allah memaafkan apa yang telah berlalu.”

Yang demikian itu didasarkan pada firman-Nya: ‘afallaaHu ‘ammaa salaf (“Allah memaafkan apa yang telah berlalu. ” (QS. Al-Maa-idah: 95).

Dan sebagaimana sabda Rasulullah pada saat pembebasan kota Makkah (Bahkan pada haji Wada’): “Segala bentuk riba pada masa Jahiliyah diletakkan di bawah kedua kakiku ini, dan riba yang pertama kali aku letakkan adalah riba ‘Abbas.” (Lihat kitab Taarikhul Kabir, karangan al-Bukhari, juz I)

Rasulullah tidak menyuruh mereka mengembalikan keuntungan yang mereka peroleh pada masa jahiliyah, tetapi Allah Ta’ala telah memaafkan mereka atas apa yang telah berlalu. Sebagaimana yang difirmankan-Nya: falaHuu maa salafa wa amruHuu ilallaaHi (“Maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu [sebelum datangnya larangan), dan urusannya terserah kepada Allah.”

Said bin Jubair dan as-Suddi mengatakan: “Baginya riba yang dahulu pernah ia makan sebelum diharamkan.”

————————————————————————————–

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan: bahwa Aisyah radiallahu anha, isteri Nabi saw. pernah bertutur: “la pernah ditanya oleh Ummu Bahnah, yaitu ummu walad Zaid bin Arqam, ‘Wahai Ummul Mukminin, apakah engkau kenal Zaid bin Argam?’ ‘Ya, aku mengenalnya,’ jawab Aisyah. Ummu Bahnah mengatakan: ‘Sesungguhnya aku telah menjual-kannya (untuk Zaid) seorang budak kepada Atha’ dengan harga 800 dirham (dengan tempo/utang). Lalu aku memerlukan uang, maka aku membeli kembali (budak itu) (dengan tunai) sebelum sampai waktu pembayaran (sebelum jatuh tempo) dengan harga 600 dirham (tunai).’ Aisyah pun berkata: ‘Alangkah buruknya pembelianmu, alangkah buruknya pembelianmu itu. Sampaikanlah kepada Zaid bahwa ia benar-benar telah menghapuskan pahala jihadnya bersama Rasulullah, jika ia tidak segera bertaubat.’ Ummu Bahnah melanjutkan pertanyaan: ‘Bagaimana menurut pendapatmu, jika aku meninggalkan 200 dirham dan mengambil yang 600. dirham (sebagai pembayaran hutang)?’ Aisyah menjawab: ‘Ya, boleh.’ ‘Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Rabbnya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datangnya larangan), dan urusannya terserah kepada Allah.” Atsar ini sudah sangat masyhur dan merupakan dalil bagi orang yang mengharamkan jual beli a’inah (riba terselubung) serta beberapa Hadits lain yang berkaitan dengan hal itu yang telah ditetapkan dalam masalah hukum. Segala puji bagi Allah.

(Ummu walad adalah wanita yang melahirkan anak majikannya.-ed)

Selanjutnya Allah berfirman: waman ‘aada (“Orang yang mengulangi [mengambil riba].”) Maksudnya kembali mengambil riba, dan ia mengerjakannya setelah sampai kepadanya larangan tersebut, maka wajib baginya hukuman dan penegasan hujjah atasnya. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman: fa ulaa-ika ash-haabun naari Hum fiiHaa khaaliduun (“Maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.”)

Abu Daud telah meriwayatkan dari Abu Zubair, dari Jabir, ia menceritakan ketika turun ayat yang artinya: “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran tekanan penyakit gila.” Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang tidak meninggalkan mukhabarah, maka maklumatkanlah perang kepada Allah dan Rasul-Nya.’” (Dha’if: Didha’ifkan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab Silsilah al-Ahadiits adh-Dha’iifah (990).

Hadits terakhir di atas juga diriwayatkan oleh al-Hakim dalam kitabnya, al-Mustadrak, dari Abu Khaitsam. Dan ia mengatakan, bahwa derajat Hadits itu sahib dengan syarat Muslim, namun Imam al-Bukhari dan Imam Muslim tidak meriwayatkannya.

=====================================================

Diharamkan mukhabarah, yaitu menyewakan tanah dengan imbalan sebagian hasil buminya. Demikian juga muzabanah, yaitu membeli kurma basah yang masih ada di pohonnya dengan pembayaran kurma kering yang sudah ada di tanah. Dan muhagalah, yaitu pembelian biji yang masih melekat pada tangkainya di ladang dengan biji yang sudah ada di atas tanah. Semuanya itu dan juga semua praktek yang sejenisnya diharamkan untuk merintangi jalan ke inti riba, sebab belum diketahui kesamaan dua barang sebelum keduanya kering betul. Oleh karena itu, para fuqaha mengemukakan: “Ketidaktahuan terhadap kesamaan, sama seperti hakikat kelebihan.” Dan mereka juga mengharamkan segala sesuatu yang mereka pahami, sebagai upaya untuk mempersempit jalan dan berbagai sarana yang mengantarkan kepada riba. Adapun ketidaksamaan pandangan mereka tergantung pada ilmu yang dikaruniakan Allah kepada mereka.

Dan Allah Ta’ala sendiri telah berfirman yang artinya: “Dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi yang Mahamengetahui (Allah).” (QS. Yusuf: 76).

======================================================

Masalah riba ini merupakan masalah yang paling rumit menurut kebanyakan ulama. Amirul Mukminin, Umar bin Khaththab pernah mengatakan, tiga hal yang seandainya saja Rasulullah saw. mewasiatkan kepada kami dengan suatu wasiat yang dapat memuaskan kami yaitu dalam masalah; al-jaddu (bagian warisan kakek), al-kalalah (orang yang meninggal tidak meninggalkan ayah dan anak), dan beberapa masalah riba.

Maksudnya adalah sebagian masalah yang di dalamnya terdapat percampuran riba, sedangkan syariat telah menetapkan bahwa sarana yang mengantarkan kepada yang haram itu pun haram hukumnya, karena sesuatu yang mengantarkan kepada yang haram adalah haram, sebagaimana tidak sempurna suatu kewajiban kecuali dengan sesuatu, makanya itu menjadi wajib.

======================================================

Di dalam kitab ash-Shahihain (al-Bukhari dan Muslim) telah ditegaskan sebuah Hadits yang diriwayatkan al-Bukhari dan Muslim dari Nu’man bin Basyir, ia menceritakan, aku pernah mendengar Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya yang halal itu telah jelas, yang haram pun telah jelas, dan di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang samar (diragukan). Barangsiapa menjaga dirinya dari perkara yang diragukan, berarti ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Dan barangsiapa yang terjerumus ke dalam keraguan, berarti ia telah terjerumus ke dalam perkara yang haram, seperti penggembala yang meng-gembalakan ternaknya di sekitar daerah terlarang, lambat laun ia akan masuk ke dalamnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dan di dalam kitab as-Sunan juga diriwayatkan sebuah hadits dari al-Hasan bin Ali radiallahu anhuma, ia menceritakan, aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Tinggalkan perkara yang engkau ragukan, menuju kepada perkara yang tidak engkau ragukan.”

————————————————————————————–

Dalam hadits yang lain Rasulullah juga bersabda: “Dosa itu adalah sesuatu yang mengganjal di dalam hatimu, yang padanya jiwa menjadi ragu, dan engkau tidak suka bila diketahui orang lain.”

Sedangkan dalam riwayat lain disebutkan: “Mintalah fatwa kepada hatimu, meskipun manusia telah memberikan fatwa kepadamu.” (Diriwayatkan Imam Ahmad dan Imam ad-Darimi dalam kitab Musnad milik masing-masing dari keduanya dengan sanad shahih atau hasan; Dha’if, lihat kitab alMajma’ (8/175).-ed.)

Ats-Tsauri meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia mengatakan: “Ayat yang terakhir kali turun kepada Rasulullah adalah ayat tentang riba.” Demikian yang diriwayatkan Imam al-Bukhari dari Qabishah.

Imam Ahmad juga meriwayatkan bahwa Umar pernah mengatakan: “Ayat yang terakhir kali turun kepada Rasulullah saw adalah ayat tentang riba, dan sesungguhnya beliau telah dipanggil ke hadirat-Nya sebelum beliau sempat menafsirkannya kepada kami. Oleh karena itu, tinggalkan riba dan keraguan.”

Ia mengatakan bahwa Hadits tersebut juga diriwayatkan Ibnu Majah dan Ibnu Mardawih.

======================================================

Ibnu Majah juga meriwayatkan dari Abdullah bin Masud, dari Nabi beliau bersabda: “Riba itu ada 73 (tujuh puluh tiga) macam.” (HR. Ibnu Majah).

“Yang paling ringan dari Riba itu Zina dengan Ibu Kandung.”

Hadits di atas juga diriwayatkan al-Hakim dalam kitabnya, al Mustadrak, dari ‘Amr bin ‘Ali al-Falas, dengan isnad yang sama, dengan tambahan lafazh: “Yang paling ringan dari riba itu seperti seseorang menikahi ibunya sendiri dan sejahat-jahat riba adalah mengganggu kehormatan seorang muslim.”

Al-Hakim mengatakan: “Hadits tersebut sahih dengan syarat Syaikhani (al-Bukhari dan Muslim), namun keduanya tidak meriwayatkannya.

—————————————————————————————

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda: “Akan datang suatu masa di mana manusia banyak memakan riba.” Ditanyakan kepada Rasulullah: “Apakah manusia secara keseluruhan?” Beliau menjawab: “Yang tidak memakannya pun akan terkena debunya.” (HR. Ahmad; Dha’if, didha’ifkan oleh Syaikh al-Albani dalam kitab Dha’iiful Jaami’ (4864).-ed.)

Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Abu Dawud, Nasa’i, dan Ibnu Majah. Oleh karena itu, diharamkan segala sarana yang dapat menimbulkan setiap perkara yang haram.

Ahmad meriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha: “Setelah ayat-ayat mengenai riba yang terdapat pada akhir surat al-Baqarah turun, Rasulullah saw. berangkat ke masjid, lalu beliau membacakan ayat-ayat tersebut. Selanjutnya beliau mengharam-kan perdagangan khamer.”

Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Jama’ah, kecuali at-Tirmidzi, melalui jalan al-A’masy.

————————————————————————————–

Demikian pula redaksi dari riwayat al-Bukhari ketika menafsirkan ayat ini, maka diharamkanlah perdagangan khamer.

Dalam lafazh al-Bukhari, yang diriwayatkan dari Aisyah radiallahu anha, ia menceritakan: “Ketika ayat-ayat yang terdapat pada akhir surat al-Baqarah mengenai riba, Rasulullah membacakannya kepada umat manusia, lalu beliau mengharamkan perdagangan khamer.”

Beberapa imam yang membicarakan Hadits ini berkata, “Setelah riba dan berbagai macam sarananya diharamkan, maka khamer dan segala bentuk perdagangannya pun diharamkan,” sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw. dalam sebuah Hadits muttafaqun ‘alaih: “Allah melaknat orang Yahudi yang telah diharamkan bagi mereka lemak, namun mereka mencairkannya, lalu menjualnya dan memakan hasil penjualannya.” (Muttafaqun ‘alaih).

======================================================

Telah dikemukakan sebelumnya pada Hadits Ali, Ibnu Mas’ud, dan yang lainnya dalam pelaknatan terhadap muhallil pada penafsiran firman Allah swt. berikut ini: hattaa tankiha azwaajan ghairaHu (“Sehingga ia menikah dengan suami yang lain.”) (QS. Al-Baqarah: 230). Sabda Rasulullah saw: “Allah melaknat orang yang me-makan riba, yang mewakili transaksi riba, dua orang saksinya, dan orang yang menuliskannya.”

Mereka berpendapat: “Dan janganlah seseorang menyaksikannya dan menuliskannya kecuali jika diperlihatkan dalam bentuk akad syar’i, padahal transaksi itu sendiri batal.

Dengan demikian, yang dijadikan sandaran adalah maknanya, bukan gambaran lahiriahnya. Karena amal perbuatan itu tergantung pada niatnya.

Muhallil: Seseorang yang berpura-pura menikahi wanita yang sudah ditalak tiga, agar bisa kembali kepada suami yang menceraikannya.-ed.

Dalam Hadits shahih telah ditegaskan, Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk rupa kalian, dan tidak juga kepada harta kekayaan kalian, melainkan la melihat kepada hati dan perbuatan kalian.”

======================================================

Imam al-‘Allamah Abu ‘Abbas Ibnu. Taimiyah telah menyusun sebuah kitab mengenai Ibthalut-Tahlil yang mencakup larangan menempuh berbagai sarana yang mengantarkan kepada setiap perkara yang bathil. Dan pembahasan tentang hal itu sudah sangat mencukupi dan memuaskan dalam kitab tersebut. Semoga Allah memberikan rahmat dan meridhainya. “

======================================================

Simpulan:

Bank Syariah sudah [ditata] sesuai Syariah, jelas BEDA dengan Bank Konvensional. Istilah beda, hukum beda. Jangan disamakan. | Menyamakan Jual Beli dengan Riba, sama seperti orang musyrik. Kata Tafsir Ibnu Katsir.

Ayo Ke Bank Syariah | #iLoveiB

One thought on “Syariah dan Konven Sama Saja?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *