Denda Kok Riba

Denda Itu Riba?

Kritikan:

“Denda telat bayar itu Riba.”

Jawaban:

Definisi denda adalah sanksi yang dikenakan kepada nasabah yang mampu bayar namun tidak memiliki itikad yang baik dan/atau sengaja menunda-nunda pembayaran. | Denda dalam arti penalty disebut gharamah. Beda dengan Ta’zir [SANKSI].

Sekali lagi, perhatikan definisi denda tersebut.

Perhatikan,

  • “Ulama Dewan aja bisa salah, apalagi Ulama Dewean, apalagi akal sampeyan.” Ifham Quotes
  • Oleh karena itu, mari kita mendengarkan apa kata Ulama Dewan [bukan Ulama Dewean] dalam Fatwa DSN MUI No. 17 tahun 2000 tentang Sanksi atas Nasabah Mampu yang Menunda-nunda Pembayaran.
  • Fatwa itu ditandatangani oleh DR. (HC) KH. Muhammad Ahmad Sahal Mahfuzh (Rais Aam Syuriyah PBNU saat itu) dan berdua bersama Dr. HM Dien Syamsuddin (Ketua PP Muhammadiyah saat itu). Selanjutnya, perhatikan dan cermati baik-baik logika fikih denda telat bayar yang diterapkan di Bank Syariah.

Pertimbangan:

  • Ada transaksi di Lembaga Keuangan Syariah dibayar secara angsuran. Ada kewajiban bagi Nasabah untuk bayar.
  • Nasabah mampu, terkadang menunda pembayaran. Padahal setiap Nasabah yang pembiayaannya disetujui pasti terkriteria mampu, buktinya sudah lulus Analisis 5C dalam pembiayaan. Analisis 5C itu ya Character, Capacity, Capital, Condition, Collateral. Anda mau menambahnya dengan analisis pembiayaan metode lainnya, silahkan saja, asal halal.

Dalil:

[1] Alquran Surat Al Maidah ayat 1.

  • Ini adalah khithab [titah Allah] tertinggi dalam akad.
  • Buat penghutang, sebelum nyalahin pihak lain, salahin diri sendiri dulu karena tidak mematuhi khithab tertinggi dalam akad, yakni:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ ۚ

Duhai orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu.”

  • Kewajiban ada di posisi Nasabah, maka Nasabah jangan sampai zhalim.
  • Logika ini muncul oleh karena kewajiban sudah terbukti ditunaikan.

[2] Hadits:

حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْخَلاَّلُ، حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ الْعَقَدِيُّ، حَدَّثَنَا كَثِيرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ الْمُزَنِيُّ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ الصُّلْحُ جَائِزٌ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ إِلاَّ صُلْحًا حَرَّمَ حَلاَلاً أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا وَالْمُسْلِمُونَ عَلَى شُرُوطِهِمْ إِلاَّ شَرْطًا حَرَّمَ حَلاَلاً أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا ‏‏ ‏.‏ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ ‏

Perdamaian bisa dilakukan di antara kaum muslim kecuali perdamaian yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram, dan kaum muslimin terikat dengan syarat-syarat mereka kecuali mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram.”

  • Kalau ada permasalahan, damailah, asal jangan dalam rangka menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal.

[3] Hadits berikutnya:

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الأَعْلَى، عَنْ مَعْمَرٍ، عَنْ هَمَّامِ بْنِ مُنَبِّهٍ، أَخِي وَهْبِ بْنِ مُنَبِّهٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ ـ رضى الله عنه ـ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ “‏ مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ ‏”‏‏.‏

Penundaan (pembayaran) yang dilakukan oleh orang yang mampu adalah kezhaliman.”

[4] Hadits berikutnya:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ النُّفَيْلِيُّ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ، عَنْ وَبْرِ بْنِ أَبِي دُلَيْلَةَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ مَيْمُونٍ، عَنْ عَمْرِو بْنِ الشَّرِيدِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ “‏ لَىُّ الْوَاجِدِ يُحِلُّ عِرْضَهُ وَعُقُوبَتَهُ ‏”‏ ‏.‏ قَالَ ابْنُ الْمُبَارَكِ يُحِلُّ عِرْضَهُ يُغَلَّظُ لَهُ وَعُقُوبَتَهُ يُحْبَسُ لَهُ

“Menunda-nunda (pembayaran) yang dilakukan oleh orang yang berada (orang yang mampu), itu menghalalkan harga diri dan pemberian sanksi (materi) kepadanya.”

 

[5] Hadits yang menjadi inspirasi qawaid fiqhiyyah:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، أَنْبَأَنَا مَعْمَرٌ، عَنْ جَابِرٍ الْجُعْفِيِّ، عَنْ عِكْرِمَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم

“‏ لاَ ضَرَرَ وَلاَ ضِرَارَ ‏”‏

Tidak boleh membahayakan (membuat hadirnya mudharat) bagi diri sendiri dan tidak boleh pula membahayakan (membuat hadirnya mudharat) bagi orang lain.”

Ternyata..

  • Ternyata DSN MUI tidak menggunakan hadits tentang riba nasiah terkait dengan topik pengenaan sanksi bagi nasabah mampu yang menunda pembayaran. | Oleh karena memang tidak ada Riba yang diambil oleh pihak Lembaga Keuangan Syariah. Dana sanksi itu disalurkan pada dana sosial atau dana kebajikan. Dan dana hutang piutangnya yang dari pinjaman maupun dari jual beli adalah transaksi halal.
  • Akan beda kondisi dengan rekening tabungan tetapi nggak ngambil bunga, maka akan ada riba pada kesepakatan transaksi berbasis bunga dan saldo itu pasti otomatis untuk pesta riba. Bunga malah diikhlaskan. Pejuang Riba Sejati Tanpa Pamrih itu namanya.

Lanjut Kaidah Fikih..

  • DSN MUI menambahkannya dengan kaidah fikih

أَلْأَصْلُ فِيْ الْمُعَامَلَاتِ الْإِبَاحَة إِلَّا أَن يَدُلَّ دَلِيْلٌ عَلَى تَحْرِيْمِهَا

Hukum asal dari Muamalah adalah boleh dilakukan sampai ada dalil yang mengharamkannya.”

الضَّرَرُ يُزَالُ

“Bahaya (beban berat) itu harus dihilangkan.”

Keputusan:

  • Sanksi dikenakan pada nasabah mampu, namun menunda pembayaran dengan disengaja.
  • Nasabah yang tidak/belum mampu bayar karena force majeure tidak boleh dikenakan sanksi.
  • Nasabah mampu bayar, namun menunda dan/atau beritikad tidak baik, boleh dikenakan sanksi.
  • Sanksi dikenakan dengan prinsip ta’zir, agar nasabah lebih disiplin.
  • Sanksi bisa berupa denda uang yang besarnya ditentukan saat akad ditandatangani.
  • Dana denda dipakai atau disalurkan untuk dana sosial.

=====================================================

Simpulan Utama:

  • Denda telat bayar bagi nasabah mampu namun sengaja menunda pembayaran, boleh dikenakan, dibela Alquran dan Hadits, sehingga boleh tidak dikenakan. | Jika Anda merasa logika Anda benar tapi ada Alquran Hadits yang membelanya, coba cek lagi logika Anda.
  • Jika tidak mau dianggap sengaja telat bayar, jika beneran nggak mampu bayar, segera kontak pihak pemberi hutang sebelum telat. Segera. Paling lambat hari pertama pada saat telat bayar. Ajukan penghapusan denda. Atau jadilah fakir miskin agar terkategori tidak mampu.
  • Pengenaan denda telat bayar di Lembaga Keuangan Syariah TIDAK ADA RIBA-nya karena tidak diambil sebagai pendapatan dan memang berasal dari transaksi halal.
“Ulama Dewan aja bisa salah, apalagi Ulama Dewean (sendirian), apalagi akal sampeyan.” Ifham Quotes

Oleh karena itu, mari dengarkan dan tawadhu terhadap Fatwa Ulama Dewan.

Tambahan..

Jika nasabah dikenakan denda telat bayar, kemungkinan sebabnya adalah:

  • Nasabah tersebut tidak berhasil membuktikan secara legal bahwa dia adalah dhu’afa [faqir atau miskin].
  • Nasabah tersebut tidak berhasil membuktikan secara legal bahwa ia telah melaksanakan kewajiban.

Solusi:

Silahkan ajukan aja penghapusan pengenaan denda telat bayar. Ajukan baik-baik, secara legal. Insya Allah dikabulkan. Amin.

Oiya, Denda beda dengan ganti rugi. Denda tidak boleh diakui sebagai pendapatan. Ganti rugi boleh diakui sebagai pendapatan.

Simpulan:

Denda telat bayar yang diterapkan di Bank Syariah bukan Riba.

“Denda telat bayar yang diterapkan di Bank Syariah kok bisa dibilang Riba. Ada-ada saja.” Ifham Quotes

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *