Syariah Kok Ada Sita Agunan?

Syariah Kok Ada Sita Agunan

Kritikan:

“Bank Syariah pake Sita Agunan. Yang disita juga merupakan objek akad jual belinya. Ini nggak Syariah.”

Jawaban:

  • Perhatikan manajemen pembiayaan. Perhatikan Nasabah yang memiliki Pembiayaan. | Ada berkas pengikatan Hak Tanggungan atau Fiducia. Dokumen legal. Nasabah tanda tangan. Nasabah Ikhlas. Dari sisi logika juga nggak salah.
  • Nasabah berjanji akan memenuhi akad. Nasabah berjanji, jika Nasabah melanggar akad, maka Nasabah rela menyerahkan hak tanggungan atas barangnya nanti dilakukan proses hukum sampai lelang.

Adakah yang salah jika Bank Syariah menjalankan prosedur itu? | Jelas tidak salah.

=====================================================

Perhatikan proses pada Manajemen Pembiayaan.

  • Ketika nasabah telat sehari, maka akan diberikan tangguh berbulan-bulan. Ada kolektibilitas 2-5. Itu berbulan-bulan. | Lanjut RRR. Restructuring, Rescheduling, Reconditioning. | Telat bayar lagi. Kolektibilitas 2-5 lagi, berbulan-bulan. | Lanjut nonlitigasi, bisa berbulan-bulan. | Lanjut litigasi, bisa berbulan-bulan. | Prosed di KPKNL, bisa berbulan-bulan. | Putusan sampai eksekusi lelang pun bisa berbulan-bulan.

Melihat proses tersebut, justru terlihat Bank Syariah terlalu baik hati sama Nasabah. Nasabah dikasih waktu tangguh berbulan-bulan bahkan tahun, tetap saja ingkar akad. Ini kan berarti Nasabah bebal.

  • Perhatikan, jika sampai pada proses Sita Agunan, maka ini indikasi kuat bahwa nasabah memang bebal.

Catatan: hasil penjualan agunan harus diketahui oleh nasabah, dan dilakukan settlement [penyesuaian] jika ternyata ada selisih kurang atau selisih lebih pada nasabah, untuk diselesaikan sebagaimana yang menjadi hak dan kewajiban nasabah dan bank syariah.

Simpulan:

Sita Agunan itu prosedur bagus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *