Logika Fikih e-Money Syariah

Logika Fikih e-Money Syariah
Oleh: Ahmad Ifham Sholihin, Amana Sharia Consulting

Uang itu barang netral. Uang itu barang halal. Yang menyebabkan Uang dikatakan Syariah atau tidak adalah terkait dengan transaksi Uang tersebut. Jika Uang ditransaksikan halal, maka jadinya halal. Jika Uang ditransaksikan haram, maka jadinya haram.

Uang Elektronik Syariah adalah Uang Elektronik yang transaksinya sesuai Syariah. Tolok ukur Syariah itu simpel, yakni ketika rukun dan syarat terpenuhi. Yahudi kok melaksanakan transaksi Uang Elektronik Syariah ya jadinya transaksi tersebut halal.

Tulisan ini merujuk pada Fatwa DSN MUI No. 116 tahun 2017 tentang Uang Elektronik Syariah. Fatwa Ulama Dewan. Bukan versi Ulama Dewean. Bukan versi Akal Dewean.

Saya biasanya bikin statement bahwa alternatif akad yang bisa digunakan oleh skema e-Money adalah pake Akad Titipan ATAU pake Akad Ijarah. Tinggal mari dicek lagi TASHOWWUR [gambaran alur akad], di mana posisi Wadiah dan dimana posisi Ijarah. Wadiah pun Wadiah yang mana?

Catatan: Uang Elektronik ini hanya bisa dipake di Merchant khusus, tidak bisa dipergunakan di semua tempat yang melibatkan Jual Beli.

Poin penting yang saya simpulkan dari Fatwa:

[1] Fatwa DSN MUI No. 116 Halaman 7 pada Ketentuan Umum Poin 1.c. sangat lugas menyebut bahwa jumlah nominal uang elektronik yang dikelola penerbit BUKAN merupakan simpanan sebagaimana dimaksud dalam undang-undang yang mengatur mengenai perbankan. Kita tahu bahwa Simpanan pada perbankan [Syariah] adalah Wadiah yad Dhamanah [QARDH]. Saya simpulkan, e-Money bukan simpanan sejenis Rekening Bank.

[2] Pada e-Money, ada beberapa pihak yang terlibat, sehingga memunculkan berbagai kemungkinan akad yang dipake antarpihak terkait.

[3] Akad antara pengguna e-Money dengan penerbit adalah Wadiah yad Amanah, BUKAN Wadiah yad Dhamanah [QARDH].

[4] Fatwa membuka KEMUNGKINAN skema Akad antara Pemegang e-Money dengan Penerbit pake akad QARDH [tahawwul al Aqd dari WADIAH YAD DHAMANAH], namun dari sisi TASHOWWUR transaksi e-Money sudah lugas DIBANTAH SENDIRI oleh Fatwa DSN MUI No. 116 Halaman 7 pada Ketentuan Umum Poin 1.c. bahwa bahwa jumlah nominal uang elektronik yang dikelola penerbit BUKAN merupakan simpanan sebagaimana dimaksud dalam undang-undang yang mengatur mengenai perbankan [Syariah]. Kita tahu bahwa Simpanan pada perbankan adalah Wadiah yad Dhamanah [QARDH].

Usulan Akad

Akad ini bisa dipake bagi Penerbit Kartu e-Money selain Lembaga Keuangan Syariah. Fatwa DSN MUI secara spesifik TIDAK MENGATUR penggunaan akad ini dan TIDAK MELARANG penggunaan akad ini. Ini sebagai solusi. Fokusnya adalah SOLUSI, bukan sekedar bisa mengharam-haramkan.

[a] Akad antara penerbit dengan pihak lain [principal, acquirer, pedagang, penyelenggara kliring, penyelenggara akhir] tidak saya bahas khusus karena ini bukan konsumsi masyarakat awam. Akad yang BISA dipergunakan adalah IJARAH, Ju’alah [“Ijarah”] dan Wakalah bil UJRAH [Wakalah bil “Ijarah”].

[b] Selain setuju dengan skema Wadiah yang BUKAN QARDH tersebut, saya sendiri punya TASHOWWUR tambahan terkait Akad antara Pemegang Kartu e-Money dengan Penerbit, yakni IJARAH dan IJARAH Maushufah fi Dzimmah. Tidak melanggar Fatwa karena tidak dilarang oleh Fatwa.

[b1] Akad Pertama adalah IJARAH, ini JIKA Top Up Saldo dianggap Beli Manfaat [IJARAH] Fasilitas Pulsa Uang Elektronik. Perhatikan logika Beli Pulsa, biasa banget beli pulsa misalnya senilai 100 ribu tapi harga asal dari Penerbit bisa 97 ribu kemudian malah dijual ke konsumen 102 ribu, padahal nilai manfaatnya tetap 100 ribu. Tidak mungkin skema ini halal jika tidak menggunakan akad Jual Beli. Pulsa dibalikin berujung dalam bentuk Uang Cash pun boleh lho. Cek logika transaksi pada Rekening Ponsel.

[b2] Akad Kedua adalah IJARAH Maushufah fi Dzimmah, ini terjadi ketika Konsumen Beli Manfaat Perbuatan [Jasa] pake Uang Elektronik, sebelumnya SUDAH ADA SALDO Uang Elektronik dan SEBELUM Jasa diserahkan, Saldo SUDAH terpotong [artinya, Konsumen sudah bayar padahal Jasa belum dideliver].

Demikian Logika Fikih Uang Elektronik, tetap ada solusi kehalalannya. Pilih saja alternatif akadnya, lakukan konsisten sesuai karakteristik masing-masing akad.

WaLlaahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *