Bank Syariah Tidak Ada yang Syar’i?

Bank Syariah Tidak Ada yang Syar’i

Kritikan:

“Tidak ada Bank Syariah di Indonesia ini yang benar-benar Syar’i.”

Jawaban:

Siapa sih yang layak menentukan Syar’i atau tidak Syar’inya suatu transaksi? | Ya jelas Allah.

  • Siapa sih wakil Allah di muka bumi ini yang bisa menjadi wakil-Nya dalam menentukan Syar’i atau tidak Syar’inya suatu persoalan dalam hidup keseharian? | Ulil Amri. Itu kata Alquran ya. Urutan yang ditaati [menurut Alquran] itu kan Allah, Rasulullah, dan Ulil Amri.
  • Siapakah yang layak menafsirkan dalil Nash Alquran dan Hadits? | Lha tadi itu jawabannya, Ulil Amri. Ulil Amri di antara kalian [kata Allah dalam Alquran].
“Ulil Amri terdiri dari Ulama Dewan dan Umara Dewan.
  • Siapakah Ulil Amri? | Cek tafsir. Tafsir Ibnu Abbas saya ambil mewakili Tafsir lainnya, bahwa Ulil Amri dipilah menjadi dua, yakni Ulama dan Umara. Urusan kesyariahan fikih atau urusan dalil itu di ranah Ulama. Urusan duniawi di ranah Umara.

Ulama atau Umara yang mana? | Ulama Dewan dan Umara Dewan. Bukan Ulama Dewean atau Umara Dewean [sendirian].

Emang ada Umara Dewean? | Lhooo di Indonesia ini ada lho yang jelas bilang tidak mengakui Negara dan memproklamirkan diri sebagai Amir. Ini liar. Sebenarnya. Mungkin negara masih berbaik hati dan bersabar. Mari ikut logika Umara Dewan.

Berarti Umara Dewan itu Negara Kesatuan Republik Indonesia dan perangkatnya ya? | Persis.

  • Ulama Dewan itu siapa? | Ulama yang ada dalam Dewan. Kalau di Indonesia ya ada Majelis Ulama Indonesia [MUI]. Untuk urusan Muamalah ya ada Dewan Syariah Nasional MUI [DSN MUI].
  • Siapa saja yang di DSN MUI? | Isinya? Ada Kyai Haji, Ustadz, Profesor, Doktor, Lc., MA, MH, Ak., CPA., MM., MEc., MH., MHum., MAg., Ph.D., M.Sc., dan gelar lainnya, ada Hafizh, Hafizhah, Ahli Tafsir, Ahli Hadits, Ahli Tashowwuf, Ahli Mantiq, Ahli Fiqh Muqaran, Ahli Fiqh Klasik, Ahli Ekonomi, Ahli Ekonomi Syariah, Ahli Akuntansi, Ahli Fiqh Ibadah, Ahli Ushul Fiqh, Ahli Qawaid Fiqh, Ahli Fiqh Muamalah Klasik, Ahli Akuntansi, Ahli Falaq, Ahli Riset, Ahli Fiqh Muamalah Kontemporer, Ahli Regulasi, Ahli Ilmu Alat, Ahli Nahwu Shorof, Ahli Bahasa, Ahli Tarikh, Ahli Hukum, Ahli Hukum Positif, Ahli Praktik, Ahli Keuangan, Zuama, representasi ormas seperti NU, Muhammadiyah, Persis dan lainnya, ngumpul jadi satu.
  • Catat, semua keahlian itu cukup KHAYAL dimiliki oleh satu orang saja. | Hanya ada dalam DEWAN.
  • Apakah sanad keilmuannya sampai Rasulullah? | Yes. Terlalu banyak Ulama di Indonesia ini yang sanadnya jelas ke Rasulullah. Di kampung sangat banyak. Di DSN MUI banyak. Cuma, beliau-beliau tidak narcis.

Jadi, sebenarnya apakah Bank Syariah sudah Syar’i? | Sudah. Konsepnya sudah. Prosedurnya sudah.

Buktinya? | Buktinya ya ketika ada Bank Syariah beroperasi, maka pasti sudah mengantongi Surat Izin Usaha dan Izin Produk Syariah. Sudah mendapatkan validasi dan persetujuan dari Dewan Pengawas Syariah [DPS] DSN MUI. Di setiap prosedurnya.

  • Siapa itu DPS DSN MUI? | Gampangnya, DPS DSN MUI adalah kepanjangan tangan dari DSN MUI di setiap Bank Syariah untuk mengawasi Bank Syariah. Jumlahnya biasanya 2 orang.
  • Sedikit banget DPS-nya? Apa bisa mengawasi seluruh cabang di Indonesia? | DPS boleh sedikit, tapi pasukan auditor pasti akan ada di setiap cabang. Pengalaman saya jadi praktisi, setiap auditor itu bertanggungjawab melakukan audit dengan lebih dari 3000 item audit. Isinya ya audit operasional dan bisnis. Semuanya. Audit atas pelaksanaan SOP kan otomatis audit kesyariahan. Representasi kesyariahan Bank Syariah kan di SOP. Standard Operating Procedure.
  • DPS DSN MUI di kantor pusat aja? | Kadang-kadang sidak [inspeksi mendadak] ke kantor cabang. Tanpa pemberitahuan. Jadi, selain audit reguler di setiap cabang, ada juga sidak.

Jadi, apakah Bank Syariah bener-bener sudah Syar’i? | Sudah. Dari sisi konsep sudah. Dari prosedur sudah.

“Bank yang Syar’i adalah Bank yang sudah memenuhi rukun dan syarat transaksi Syariah.” Ifham Quotes

Kok banyak praktiknya yang tidak sesuai Syariah? | Praktiknya yang menyimpang? Berarti Anda otomatis setuju bahwa Prosedur sudah benar. Berarti praktisi atau/dan nasabahnya yang menyimpang, BUKAN Bank Syariahnya. Solusinya ya silahkan ajarin praktisi atau/dan nasabah yang menyimpang itu agar paham dan taat prosedur. Ajarin. Kalau nggak mampu ngajarin, diamlah.

  • Kok jadi nyalahin praktisi atau nasabah? | Lho kan tadi dituduh praktiknya tidak sesuai Syariah? Berarti itu bukan lagi di sisi Prosedur, tapi di sisi praktisi atau nasabahnya. Di sisi ORANG-nya yang berpraktik.

Kok jadi kita yang diminta ngajarin? | Lho Anda yang melihat penyimpangannya kan? Anda yang menuduh adanya kemungkaran kan? Maka tugas Anda untuk mbenerin.

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْت رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم يَقُولُ: مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

Hadits di atas diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Imam Ibnu Majah.

Orang yang melihat kemungkaran [yang beneran kemungkaran] di antara kalian, maka [tugas orang yang melihatnyalah untuk] mbenerin pake power [yad, kekuasaan, kemampuan, aksi nyata, sistemik, syariah, legal formal]. Jika nggak mampu mbenerin pake power, maka benerin pake lisan [dan/atau tulisan]. Jika nggak mampu mbenerin pake lisan, maka benerin pake hati, diam, cukup ingkari dan doakan, meski itulah selemah-lemah iman.

Pengkritik itu harus tanggung jawab. Mbenerin yang beneran salah. Itu, jika mampu. Jika nggak mampu mbenerin yang salah, diam sajalah!” Ifham Quotes

Jadi, pengkritik harus mbenerin? | Absolutely yes!.

Kalau nggak mampu benerin, kalau nggak mampu ngasih solusi, mending ngerjain aktivitas lain aja, nggak perlu repot-repot mengkritik. Itu jika paham dan taat apa kata Hadits tentang ketika kita melihat kemungkaran.

——————————————————————————-

Kalau nggak paham seluk beluk Bank Syariah ya mending nulis tema lain saja, apalagi jika niatan Anda sengaja ingin mengkritik. Pahami dulu deh prosedurnya, sebelum mengkritik.

Simpulan:

Bank Syariah sudah Syar’i. Sungguh-sungguh Syar’i. Menurut Ulama Dewan. Bukan menurut Ulama Dewean. Bukan menurut Akal Dewean. | Bank Syariah sudah sesuai Syariah dari sisi prosedur. Jika praktiknya salah, tugas yang melihat kesalahan praktik Bank Syariah adalah ngajarin praktisi atau nasabah yang salah praktik itu agar paham dan taat praktik. Jika nggak mampu ngajarin atau mbenerin yang salah, diamlah, masih masuk kategori selemah-lemah iman. Masih punya iman. Solved.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *