Bank Syariah Menjiplak Bank Konvensional?

Bank Syariah Menjiplak Bank Konvensional?

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Yang terhormat, Ustadz Ahmad Ifham Sholihin.

Kenapa skema transaksi dan produk Bank Syariah itu meniru Bank Konvensional? Jadi terkesan kurang inovatif dan tidak ada bedanya dengan Bank Konvensional?

Mohon pencerahannya. Terima kasih.

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Shidiq, tinggal di Depok.

Jawaban:

Saudara Shidiq yang dicintai Allah, semoga kita semua selalu berlimpah barakah dari Allah agar kita bisa konsisten hanya mau menggunakan rekening Bank Syariah saja dalam menggunakan transaksi perbankan. Amin.

Allah berfirman dalam Alquran Surat Al Baqarah ayat 275, “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual-beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.”

Hal utama yang harus diperhatikan adalah bahwa pemakan riba itu seperti orang kerasukan setan, rusak akal, dan gila. Mereka itu adalah orang yang mengatakan bahwa transaksi jual-beli adalah sama dengan riba. Itu rumus dari Alquran. Istilah atau label tersebut diungkapkan oleh Alquran. Saya hanya menirukannya.

Berhati-hatilah jika ingin menyebut bahwa Bank Syariah sama saja dengan Bank Konvensional. Salah-salah bisa masuk kategori orang yang kemasukan syaitan, gila, dan rusak akal. Bahkan Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini bahwa orang yang mengatakan jual-beli adalah sama dengan riba, sama saja melakukan perilaku musyrik.

Jika kita ingin mengecek apakah ada perbedaan atau tidak antara Bank Konvensional dengan Bank Syariah, caranya mudah. Yakni, cek saja istilahnya. Jika istilah berbeda, maka itulah awal perbedaan hukum. Sebagai ilustrasi, Alquran itu terdiri dari istilah-istilah. Beda panjang pendek bacaan Alquran, sudah bisa menghasilkan makna yang berlawanan, apalagi perbedaan istilah.

Jika perbedaan istilah tidak dianggap penting, maka berarti semua kata yang tercantum di dalam Alquran dan Hadits juga tidak penting karena semuanya cuma istilah-istilah? Jika perbedaan istilah tidak dianggap penting, apa berarti ilmu hukum dan ilmu syariah itu juga dianggap tidak penting karena isinya adalah bedah istilah?

Anda nikah diberi buku zina (bukan buku nikah), pasti Anda tidak mau, karena zina dan nikah sudah memiliki makna yang berbeda. Nama saya Ahmad Ifham Sholihin diganti Ahmad Dajjal Sholihin juga pasti saya tidak mau, padahal cuma beda istilah saja.

Madzhab Syafii berkaidah bahwa menentukan hukum berdasarkan istilah atau lafazh dan alur transaksi, bukan dari maksud dan makna transaksi. Madzhab Hanafi berkaidah bahwa menentukan hukum berdasarkan maksud dan maknanya, bukan dari lafazh dan alur transaksinya.

Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI) melakukan elaborasi atas keduanya. Lafazh, istilah, alur, maksud dan makna, semuanya penting. Semuanya dimulai dari istilah. Apalagi jika kita mau pakai logika dasar dalam berbahasa, bahwa setiap kata memiliki makna masing-masing. Jika istilah tidak dianggap penting, maka bahasa juga seharusnya tidak dianggap penting.

Jadi, jangan sepelekan istilah, dan hati-hati jika ingin mengatakan bahwa Bank Syariah dan Bank Konvensional sama saja. Risikonya sangat tidak sederhana.

Inovasi Bank Syariah

Ada anggapan bahwa Bank Syariah tidak inovatif, sehingga tidak diminati masyarakat. Anggapan ini tanpa berdasar alasan akurat jika dicermati lebih jauh lagi. Untuk membuktikannya, mari kita urai makna inovasi, diferensiasi, dan bukti yang telah dilakukan Bank Syariah.

Inovasi saya maknai dengan bid’ah atau menciptakan hal baru. Inovasi adalah melakukan penemuan baru yang berbeda dengan yang sudah ada. Sederhananya, untuk membuktikan Bank Syariah inovatif atau tidak, maka kita buktikan apakah hal yang dilakukan Bank Syariah ini hal baru atau hal yang sebelumnya sudah ada.

Produk paling sederhana yang bisa dibandingkan adalah produk tabungan, giro, dan deposito yang merupakan produk Dana Pihak Ketiga (DPK). Skema transaksi produk DPK ini jelas-jelas sudah berbeda dengan di Bank Konvensional. Istilah kontraknya sudah beda, Bank Konvensional menggunakan skema simpanan bersyarat bunga, sedangkan Bank Syariah menggunakan skema titipan yang bisa dipergunakan dan skema kongsi investasi.

Skema transaksi ini juga memiliki konsekuensi operasional dan hukum yang berbeda. Istilahnya berbeda, skema alur transaksinya berbeda, konsekuensi dan risikonya berbeda, perhitungannya pun berbeda. Pada Bank Konvensional, persen bunga dihitung dengan % x Pokok yang artinya memosisikan manusia sebagai Tuhan oleh karena uang belum diapa-apakan tapi sudah berani menjanjikan hasil pasti. Sedangkan skema di Bank Syariah akan ada bonus yang tidak dijanjikan untuk akad titipan dan bagi hasil yang tidak bisa dijanjikan nominal rupiahnya sampai ada hasil.

Jika kita bersedia objektif, maka kedua perbandingan ini membuktikan bahwa skema produk di Bank Syariah dan Bank Konvensional sudah benar-benar beda (ada diferensiasi nyata), inovatif (ada temuan baru yang nyata), bahkan Bank Konvensional tidak berani meniru skema Bank Syariah karena konsekuensinya akan berdampak signifikan pada seluruh aspek bisnis dan operasionalnya. Satu lagi, jika Bank Konvensional berani meniru istilah dan skema kontrak di Bank Syariah maka Bank Konvensional harus berani janji tidak mendukung bisnis haram.

Pada produk pembiayaan pun seperti itu. Bank Syariah pasti menggunakan istilah kontrak dagang seperti jual-beli dan kongsi, jika mau ambil keuntungan. Kontrak penyaluran dana dengan skema dagang ini tidak akan ditemui di Bank Konvensional. Orang legal akan sangat paham bahwa judul kontraknya berbeda, maka risiko dan status hukumnya juga berbeda.

Berikutnya tinggal tugas praktisi untuk memahami dan memahamkan inovasi, diferensiasi, keunikan, dan keunggulan Bank Syariah kepada nasabah secara akurat agar nasabah dan publik tidak jadi gagal paham. Konsultan dan trainer memiliki tugas utama untuk memberikan edukasi yang akurat kepada praktisi Bank Syariah dari level Dewan Pengawas Syariah, Direksi sampai level pegawai dasar, agar praktisinya tidak gagal paham.

Demikian uraian singkat mengenai inovasi pada produk Bank Syariah yang benar-benar sudah beda, temuan baru, dan bahkan tidak bisa ditiru Bank Konvensional. Tinggal mari bersama kita komunikasikan keunggulan-keunggulan Bank Syariah ini kepada publik dengan sabar dan militan.

Ahmad Ifham Sholihin

Tulisan ini dimuat di Shariacorner 

2 responses to “Bank Syariah Menjiplak Bank Konvensional?”

  1. Andry Yusuf says:

    Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

    Yang terhormat, Bp Ustadz Ahmad Ifham Sholihin.

    Untuk skema produk Bank Syariah jenis bagi hasil, saya ada sedikit pertanyaan, kira-kira apakah benar secara praktik di lapangan baik dari sisi pendanaan ataupun pembiayaan terhadap bank/nasabah akan sama-sama mengalami kerugian apabila kebetulan kondisi usaha/ekonomi sedang tidak baik? Atau apapun itu bank tidak akan menanggung kerugian sebagaimana di bank konvensional? Bagaimana menyikapi hal ini (jika bank dan nasabah bersama-sama mengalami kerugian) khususnya pada sisi pendanaan?

    Mohon pencerahannya. Terima kasih.

    Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

    Andry Yusuf, Medan.

    • amanasharia says:

      Waalaykum salam ww

      Terima kasih pertanyaannya.

      Pada Akad Pendanaan, sangat bagus jika Nasabah tidak diminta menanggung rugi. Ini jelas sangat sesuai Syariah. Jika ingin mempelajari lebih jauh logika ini, silahkan baca Fatwa DSN MUI No. 105 dan 118. Yang dilarang adalah ketika Pemodal minta dana dijamin oleh pengusaha. Itu tidak dilakukan Bank Syariah. Yang menjamin adalah LPS [Lembaga Penjamin Simpanan].

      Pada skema Pembiayaan, penaggung rugi sudah sangat ditulis lugas di kontrak legal adalah Bank Syariah, jika tidak ada kelalaian dari Nasabah. Namun, jika rugi terjadi karena Nasabah tidak melaksanakan kewajiban, maka sangat wajar jika penanggung rugi adalah Nasabah.

      Demikian

      Regards,
      Ahmad Ifham Sholihin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *