Syariahkah Bank Syariah?

Syariahkah Bank Syariah?

Pertanyaan:

Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Yang terhormat, Ustadz Ahmad Ifham Sholihin.

Ada Ustadz yang menyatakan bahwa tidak ada Bank Syariah di Indonesia ini yang benar-benar syar’i. Bagaimana menurut pandangan Ustadz Ifham?

Mohon pencerahannya. Terima kasih.

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Zaim, tinggal di Depok.

Jawaban:

Saudara Zaim yang dicintai Allah, semoga kita semua selalu berlimpah barakah dari Allah agar kita bisa konsisten bertransaksi perbankan hanya di Bank Syariah saja. Amin.

Siapa yang layak menentukan syar’i atau tidak syar’inya suatu transaksi? Ya jelas, Allah.

Siapa wakil Allah di muka bumi ini yang bisa menjadi wakil-Nya dalam menentukan syar’i atau tidak syar’inya suatu persoalan dalam hidup keseharian? Ulil Amri. Itu kata Alquran, ya. Urutan yang ditaati [menurut Alquran] itu Allah, Rasulullah, dan Ulil Amri.

Siapakah yang layak menafsirkan dalil Nash Alquran dan Hadits? Jawabannya, Ulil Amri. Ulil Amri di antara kalian [kata Allah dalam Alquran].

Siapakah Ulil Amri? Coba kita cek tafsir. Tafsir Ibnu Abbas saya ambil mewakili tafsir lainnya, bahwa Ulil Amri dipilah menjadi dua, yakni Ulama dan Umara. Urusan kesyariahan fikih atau urusan dalil naqli dan aqli itu di ranah Ulama. Urusan duniawi dan dalil aqli merupakan ranah Umara.

Ulil Amri terdiri dari Ulama dan Umara. Ulama atau Umara yang mana? Ulama Dewan dan Umara Dewan. Bukan Ulama dewean atau Umara dewean [sendirian].

Memang ada Umara dewean? Di Indonesia ini ada yang jelas bilang tidak mengakui negara dan memproklamirkan diri sebagai Amir. Mari ikut logika Umara Dewan.

Berarti Umara Dewan itu Negara Kesatuan Republik Indonesia dan perangkatnya, ya? Persis.

Ulama Dewan itu siapa? Ulama yang ada dalam Dewan. Kalau di Indonesia ya ada Majelis Ulama Indonesia [MUI]. Untuk urusan Muamalah ya ada Dewan Syariah Nasional MUI [DSN MUI].

Siapa saja Ulama yang ada di DSN MUI? Ada Kyai Haji, Ustadz, Profesor, Doktor, Lc., MA, MH, Ak., CPA., MM., MEc., MH., MHum., MAg., Ph.D., M.Sc., dan gelar lainnya, ada juga Hafizh, Hafizhah, Ahli Tafsir, Ahli Hadits, Ahli Tashawwuf, Ahli Mantiq, Ahli Fikih Muqaran, Ahli Fikih Klasik, Ahli Ekonomi, Ahli Ekonomi Syariah, Ahli Akuntansi, Ahli Fikih Ibadah, Ahli Ushul Fikih, Ahli Qawaid Fikih, Ahli Fikih Muamalah Klasik, Ahli Akuntansi, Ahli Falaq, Ahli Riset, Ahli Ilmu Alat, Ahli Hukum, Ahli Nahwu Sharaf, Ahli Fikih Muamalah Kontemporer, Ahli Regulasi, Ahli Bahasa, Ahli Tarikh, Ahli Hukum Positif, Ahli Praktik, Ahli Keuangan, Zuama, representasi ormas seperti NU, Muhammadiyah, Persis dan lainnya, berkumpul jadi satu.

Catat, semua keahlian itu mustahil dimiliki oleh satu orang saja. Itu semua hanya ada dalam Dewan.

Apakah sanad keilmuannya sampai Rasulullah? Ya. Terlalu banyak Ulama di Indonesia ini yang sanadnya jelas ke Rasulullah. Di kampung sangat banyak. Di DSN MUI banyak. Hanya saja, beliau-beliau tidak sempat aktif di media sosial.

Jadi, sebenarnya apakah Bank Syariah sudah syar’i? Sudah. Konsepnya sudah. Prosedurnya sudah. Praktiknya, tinggal diawasi saja.

Apakah Bank Syariah sudah sesuai syariah? Buktinya? Buktinya, ketika ada Bank Syariah beroperasi, maka pasti sudah mengantongi Surat Izin Usaha dan Izin Produk Syariah. Sudah mendapatkan validasi dan persetujuan dari Dewan Pengawas Syariah [DPS] DSN MUI di setiap prosedurnya.

Siapa itu DPS DSN MUI? Mudahnya, DPS DSN MUI adalah kepanjangan tangan dari DSN MUI di setiap Bank Syariah untuk mengawasi Bank Syariah. Jumlahnya biasanya 2 orang.

Sedikit sekali DPS-nya? Apa bisa mengawasi seluruh cabang di Indonesia? DPS boleh sedikit, tapi pasukan auditor pasti akan ada di setiap cabang. Pengalaman saya jadi praktisi, setiap auditor itu bertanggungjawab melakukan audit dengan lebih dari 3000 item audit. Isinya ya audit operasional dan bisnis. Semuanya. Audit atas pelaksanaan Standard Operating Procedure (SOP) otomatis juga audit kesyariahan. Representasi kesyariahan Bank Syariah ada di SOP.

DPS DSN MUI di kantor pusat saja? Kadang-kadang inspeksi mendadak (sidak) ke kantor cabang. Tanpa pemberitahuan. Jadi, selain audit reguler di setiap cabang, ada juga ada sidak.

Jadi, apakah Bank Syariah benar-benar sudah syar’i? Sudah. Dari sisi konsep sudah. Dari prosedur sudah. Bank yang syar’i adalah Bank yang sudah memenuhi rukun dan syarat transaksi Syariah.

Tapi kenapa banyak praktiknya yang menyimpang dan tidak sesuai Syariah? Berarti Anda otomatis setuju bahwa prosedurnya sudah benar. Berarti praktisi dan/atau nasabahnya yang menyimpang, BUKAN Bank Syariahnya. Solusinya silakan praktisi atau/dan nasabah yang menyimpang itu diberi pelajaran agar paham dan taat prosedur. Kalau kita tidak mampu memberikan mereka pelajaran, maka lebih baik kita diam. Kata Hadits Shahih.

Kanapa malah menyalahkan praktisi atau nasabah? Yang tadi dituduhkan adalah praktiknya tidak sesuai Syariah. Berarti itu bukan lagi dari sisi prosedur, tapi di segi praktisi atau nasabahnya. Di sisi ORANG-nya yang berpraktik.

Kenapa jadi kita yang diminta untuk mengajari mereka? Tadi Anda yang merasa MELIHAT penyimpangan itu, kan? Anda yang menuduh adanya kemungkaran, kan? Maka tugas Anda untuk membetulkannya atau mengajari mereka. Dalam sebuah hadis, Nabi Muhammad SAW bersabda:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْت رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم يَقُولُ: مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

“Orang yang melihat kemungkaran [yang benar-benar kemungkaran] di antara kalian, maka tugas orang yang melihatnyalah untuk mengubahnya dengan power [yad, kekuasaan, kemampuan, aksi nyata, sistemik, syariah, legal formal]. Jika tidak mampu mengubahnya dengan power, maka gunakan lisan [dan/atau tulisan]. Jika tak mampu dengan lisan, maka dengan hati, diam, cukup ingkari dan doakan, meski itulah selemah-lemah iman.” Hadits ini diriwayatkan Imam Muslim dan Imam Ibnu Majah.

Jadi, pengkritik yang harus mengubah atau mbenerinAbsolutely yes!

Kalau pengkritiknya tidak mampu benerin atau memberikan solusi lebih baik kerjakan aktivitas lain saja. Tidak perlu repot-repot mengkritik. Itu jika paham dan taat apa kata Hadits di atas ketika kita melihat kemungkaran.

Pengkritik itu harus tanggung jawab. Mbenerin yang beneran salah. Itu, jika mampu. Bukan tugas orang lain. Jika tidak mampu mbenerin yang salah, maka lebih baik diam.

Kalau Ulama Dewan yang salah?

Silakan gantikan Ulama Dewan itu, atau audiensi dengan Ulama Dewan. Sampaikan bagian mana yang salah. Sampaikan juga solusinya yang positif dan konstruktif. Jika tidak mampu melakukan hal itu, maka diam adalah masih kategori punya iman.

Kalau tidak paham seluk-beluk Bank Syariah lebih baik menulis tema lain saja, apalagi jika niatan Anda sengaja hanya ingin mengkritik. Pahami dulu prosedurnya, sebelum mengkritik.

Simpulan:

Bank Syariah sudah syar’i, menurut Ulama Dewan, bukan menurut Ulama dewean. Bukan pula menurut akal dewean. Bank Syariah sudah sesuai Syariah dari sisi prosedur.

Jika praktiknya salah, tugas yang melihat kesalahan praktik Bank Syariah adalah mengajari praktisi atau nasabah yang salah praktik itu agar paham dan taat praktik. Jika tidak mampu mengajari atau mbenerin yang salah, maka diamlah, masih masuk kategori selemah-lemah iman. Masih punya iman.

Ahmad Ifham Sholihin

Tulisan ini dimuat di Shariacorner 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *