Bank Syariah Itu Ribet?

Bank Syariah Itu Ribet?

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Yang terhormat, Ustadz Ahmad Ifham Sholihin.

Ada Ustadz yang menyatakan bahwa Bank Syariah itu ribet. Bagaimana menurut pandangan Ustadz?

Mohon pencerahannya. Terima kasih.

Wassalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Erwanditinggal di Bogor.

Jawaban:

Saudara Erwandi yang dicintai Allah, semoga kita semua selalu berlimpah barakah dari Allah agar kita bisa konsisten bertransaksi perbankan hanya di Bank Syariah saja. Amin.

Pertama, coba cermati logika manajemen pembiayaan berikut ini secara objektif. Kita mulai dari Alquran Surat Al-Maidah, ayat 1:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَوْفُوا بِالْعُقُودِ

“Duhai (orang-orang) yang beriman, penuhilah akad-akad (itu).”

Alquran merasa sangat penting memakai kata perintah (fi’il amar): Awfuu. Ini perintah. Perintah Allah. Perintah untuk menepati (janji) atas akad. Perintah levelnya WAJIB.

Ayat Alquran tersebut menginspirasi Bank Syariah untuk MENJAGA agar semua pihak yang bertransaksi, bisa memenuhi akad. Menjaga, berarti sejak awal sudah mengidentifikasi nasabah seperti apa saja yang diprediksikan akan bisa memenuhi akad. Apakah ini yang dimaksud ribet?

Muncullah proses analisis pembiayaan, analisis character, capital, capacity, condition of economy, collateral, dan hal lain sebagai identifikasi nasabah mampu. Termasuk yang paling mudah mengidentifikasi sejak awal adalah BI Checking (Ideb SLIK – gantinya BI Checking). Apakah ini yang dimaksud ribet?

Perhatikan ayat Alquran paling panjang (yang membahas tentang dinamika berhutang), yakni Alquran Surat Al-Baqarah, ayat 282: 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى فَاكْتُبُوهُ ۚ وَلْيَكْتُبْ بَيْنَكُمْ كَاتِبٌ بِالْعَدْلِ ۚ وَلَا يَأْبَ كَاتِبٌ أَنْ يَكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللَّهُ ۚ فَلْيَكْتُبْ وَلْيُمْلِلِ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ وَلْيَتَّقِ اللَّهَ رَبَّهُ وَلَا يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْئًا ۚ فَإِنْ كَانَ الَّذِي عَلَيْهِ الْحَقُّ سَفِيهًا أَوْ ضَعِيفًا أَوْ لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يُمِلَّ هُوَ فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهُ بِالْعَدْلِ ۚ وَاسْتَشْهِدُوا شَهِيدَيْنِ مِنْ رِجَالِكُمْ ۖ فَإِنْ لَمْ يَكُونَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَامْرَأَتَانِ مِمَّنْ تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَاءِ أَنْ تَضِلَّ إِحْدَاهُمَا فَتُذَكِّرَ إِحْدَاهُمَا الْأُخْرَىٰ ۚ وَلَا يَأْبَ الشُّهَدَاءُ إِذَا مَا دُعُوا ۚ وَلَا تَسْأَمُوا أَنْ تَكْتُبُوهُ صَغِيرًا أَوْ كَبِيرًا إِلَىٰ أَجَلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ وَأَقْوَمُ لِلشَّهَادَةِ وَأَدْنَىٰ أَلَّا تَرْتَابُوا ۖ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً حَاضِرَةً تُدِيرُونَهَا بَيْنَكُمْ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَلَّا تَكْتُبُوهَا ۗ وَأَشْهِدُوا إِذَا تَبَايَعْتُمْ ۚ وَلَا يُضَارَّ كَاتِبٌ وَلَا شَهِيدٌ ۚ وَإِنْ تَفْعَلُوا فَإِنَّهُ فُسُوقٌ بِكُمْ ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu’amalah (berjual beli, hutang piutang, atau sewa menyewa dan sebagainya) tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikitpun daripada hutangnya. jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya meng-imlakkan dengan jujur. dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya. janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu. (Tulislah mu’amalah-mu itu), kecuali jika mu’amalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Tak pelak, sangat penting adanya proses administrasi pembiayaan, pemberkasan, dokumen persyaratan, appraisal, dokumen SPK, pengikatan agunan seperti APHT, covering asuransi syariah dan berbagai dokumen lain sampai pada pencairan. Apakah ini yang dimaksud ribet?

Dan yang paling penting adalah dokumen AKAD. Rincilah pasal demi pasal yang mengatur pelaku akad, jenis akad, objek akad, hak dan kewajiban, konsekuensi, denda, dan lain-lain sampai penyelesaian sengketa bahkan sampai pada korespondensi. Apakah ini yang dimaksud ribet?

Sangat penting adanya dokumen-dokumen tersebut. Representasi dari faktubuuhwalyaktub baynakum kaatibun bil ‘adli. Kaidah fikihnya adalah menghindari dharar atau bahaya. Bagus, dong.

Mari lanjut, namun dengan melihat ayat sebelumnya, yakni Al-Baqarah, ayat 280:

وَإِنْ كَانَ ذُو عُسْرَةٍ فَنَظِرَةٌ إِلَىٰ مَيْسَرَةٍ ۚ وَأَنْ تَصَدَّقُوا خَيْرٌ لَكُمْ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Dan jika (orang yang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”

Cek, tidak ada fi’il amar di situ. Tidak ada kalimat perintah. Levelnya anjuran yang kuat. Bank Syariah tidak menjalankan ayat tersebut pun sejatinya tidak apa-apa.

Ayat ini menginspirasi Bank Syariah untuk membuat prosedur pemantauan pemenuhan akad, seperti Logika Kolektibilitas 1-5, yang berarti ada prosedur TANGGUH berbulan-bulan, bahkan bisa TAHUNAN (jika nasabahnya bebal) dan untuk kasus khusus. Apakah ini yang dimaksud ribet?

Itu tangguh bagian pertama. Betapa baik hatinya Bank Syariah mengakomodir anjuran Alquran: fanazhiratun ilaa maysarah. Berbulan-bulan, bahkan sampai bertahun-tahun. Ini fakta. Selanjutnya masih ada proses Rescheduling, Reconditioning, Restructuring (RRR).

Betapa baik hati Bank Syariah sudah memberi peluang tempo atau perpanjangan pembayaran hutang dengan meringankan angsuran, dan juga bisa menggunakan pengubahan akad yang sesuai Syariah. Fanazhiratun ilaa maysarah.

Tangguh berikutnya? Masih jatuh lagi setelah ada RRR, masuk lagi Kolektibilitas 2-5. Berbulan-bulan lagi. Betapa baik hatinya Bank Syariah mematuhi ANJURAN fanazhiratun ilaa maysarah.

Tangguh lagi? Jika nasabah tak juga menjalankan kewajiban karena kondisi tertentu (apapun alasannya), ada proses nonlitigasi, misalnya penjualan agunan yang sudah diikat sejak awal dalam Akta Pengikatan Hak Tanggungan atau Fiducia. Penjualan agunan bisa dilakukan oleh nasabah. Silahkan nasabah cari pembeli.

Masih dikasih tangguh lagi. Kalau tidak solved melalui proses nonlitigasi, lanjut dengan proses litigasi. Dari gugatan, replik, duplik, saksi, dan seterusnya sampai putusan.

Lanjut lagi dengan proses lelang. Proses di KPKNL, proses pemberkasannya, surat peringatan pertama dan kedua, lanjut eksekusi. Betapa melelahkan. Apakah ini yang dimaksud ribet?

Bahkan ada tahapan wa an tashaddaquu khayrun lakum melalui write off, baik dalam definisi hapus buku maupun hapus tagih. Betapa baik hati.

Betapa Bank Syariah sudah memfasilitasi nasabah dengan sistemik agar nasabah PATUH PERINTAH awfuu bil uquud dan Bank Syariah sudah mengikuti ANJURAN Alquran dengan fanazhiratun ilaa maysarah selama berbulan-bulan sampai tahunan, dan silakan nasabah jadi FAQIR MISKIN agar bisa termasuk golongan yang terkriteria pada ayat wa an tashaddaquu khayrun lakum di atas.

Betapa baik hatinya Bank Syariah. Padahal kalau bikin aturan TELAT SEHARI LANGSUNG LELANG AGUNAN, jelas HALAL. Take it or leave it.

Begitulah upaya Bank Syariah mengakomodir Alquran dalam proses pembiayaan. Yakinlah, tata kelola Perbankan Syariah sudah dicermati rinci oleh MUI melalui fatwa-fatwa dan semua konten regulasi turunannya. Apakah ini yang dimaksud ribet?

Sebenarnya tidak ada yang ribet jika tujuannya adalah demi kebaikan dan keadilan kondisi antarpihak. Tujuannya baik.

Jika Anda melihat ada praktisi yang kerjanya memang tidak tangkas, silakan Anda ajari saja mereka agar tangkas. Buat konsultan pelatihan SDM-nya. Itu positif, konstruktif, produktif. Bagus, kan. Itu cara keren mengubah kondisi.

Simpulan:

Bank Syariah itu ribet? Ajari saja mereka praktisinya itu agar tangkas. Solved, kan? Jika tidak mampu mengajari, maka lebih baik diam. (*)

Ahmad Ifham Sholihin

Tulisan ini dimuat di Shariacorner 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *