Bank Syariah Mengandung Riba?

Bank Syariah Mengandung Riba?

Bank Syariah Mengandung Riba

Kritikan: Bank Syariah masih mengandung Riba.”

===========================================================

Tidak perlu membuat indikator yang tidak akurat dalam memberikan label Riba pada Bank Syariah. Jika Bank Syariah sudah berhasil menghindari TRANSAKSI Riba Jual Beli dan Riba Pinjaman, berarti tidak ada Riba di Bank Syariah.

Salah satu akar permasalahan munculnya simpang siur pendapat tentang makna Riba dan berbagai transaksi yang mengandung Riba adalah pemahaman terhadap definisi Riba yang tidak akurat. Jika pemahaman tentang definisi Riba ini sudah tidak akurat, dampaknya akan muncul pengharaman terhadap transaksi halal atau penghalalan atas transaksi yang haram.

Ada sebagian masyarakat yang memaknai Riba adalah tambahan atas transaksi pinjaman. Jika definisi ini valid, berarti memberikan kelebihan pengembalian dalam pinjaman adalah Riba? Padahal, Rasulullah SAW menganjurkan kepada kita untuk memberikan yang lebih baik atau lebih banyak ketika mengembalikan hutang atau pinjaman.

Dalam hadits dari Abu Raafi’ bahwasanya Rasulullah SAW pernah meminjam dari seseorang unta yang masih kecil. Lalu ada unta zakat yang diajukan sebagai ganti. Rasulullah SAW lantas menyuruh Abu Raafi’ untuk mengganti unta muda yang tadi dipinjam. Abu Raafi’ menjawab, “Tidak ada unta sebagai gantian kecuali unta yang terbaik (yang umurnya lebih baik).” Rasulullah SAW kemudian menjawab, a’thuuhu fainna min khiyaari an naasi ahsanuhum qadhaa`an yang artinya, “berikan saja unta terbaik tersebut padanya. Ingatlah sebaik-baik orang adalah yang baik dalam melunasi utangnya”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits ini menegaskan bahwa ketika kita berhutang, kembalikan dengan yang lebih baik, berilah kelebihan dalam pengembalian, baik dari sisi sifat maupun dari sisi jumlah. Dalam konteks masa kini, hal ini boleh dilakukan asalkan tidak menimbulkan conflict of interest atau aktivitas lain yang merupakan transaksi gratifikasi.

Perhatikan bahwa mengembalikan kelebihan dalam pinjaman adalah langkah yang dianjurkan Rasulullah SAW. Berarti, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Riba? Mari kita bedah bersama tentang Riba dan contoh transaksi yang mengandung Riba.

Riba Pinjaman

Riba itu secara umum dibagi menjadi dua, yakni Riba Pinjaman (hutang piutang) dan Riba Jual Beli (pertukaran). Masing-masing jenis Riba ini memiliki definisi dan karakteristik yang berbeda-beda. Kita harus bisa memahami dan memilah secara akurat agar tidak salah dalam menentukan kriteria hukum suatu transaksi yang diduga mengandung Riba.

Pertama, Riba Pinjaman. Kitab I’anah ath Thalibin Juz 3 halaman 53 merumuskan, wa amma al qardh bi syarthi jarri naf’in li muqridh fa faasid li khabari kullu qardhin jarra manfa’ah fahuwa ar riba.

واما القرض بشرط جر نفع لمقرض ففاسد لخبر كل قرض جر منفعة فهو ربا

Ketika ada pinjaman bersyarat aliran manfaat bagi pemberi pinjaman, maka hukumnya fasid atau batil, sebagaimana Hadits bahwa setiap hutang piutang yang mengalirkan manfaat adalah Riba.

Perhatikan rumus Riba Pinjaman, yakni ketika ada (1) pinjaman, (2) bersyarat, (3) aliran manfaat, (4) bagi pemberi pinjaman. Dengan demikian, ketika ada pinjaman memberikan aliran manfaat bagi pemberi pinjaman yang tidak dipersyaratkan, maka ini bukan skema Riba. Begitu juga ketika ada pinjaman bersyarat aliran manfaat namun tidak dialirkan kepada pemberi pinjaman dan/atau tidak dialirkan kepada semua pihak yang terlibat dalam transaksi, maka ini pun bukan kategori Riba.

Berdasarkan rumus tersebut, maka transaksi simpanan dan kredit di Bank Konvensional bisa valid disebut dengan Riba karena pada saat Nasabah melakukan simpanan berupa Tabungan, Giro dan Deposito, maka ada bunga yang diperjanjikan atau dipersyaratkan sebesar % x Pokok Simpanan (yang pasti sudah diketahui nominal rupiahnya) untuk si Nasabah (pemberi pinjaman). Begitu juga ketika ada transaksi Kredit di Bank Konvensional, nasabah dipersyaratkan mengembalikan bunga sebesar % x pokok Kredit (yang pasti sudah diketahui nominal rupiahnya) untuk Bank Konvensional. Transaksi ini valid disebut Riba.

Hal ini berbeda dengan kondisi yang terjadi di Bank Syariah. Ketika Nasabah menabung dengan akad wadiah yad dhamanah (pinjaman), tidak ada syarat pemberian kelebihan pengembalian pokok simpanan, tapi sangat dianjurkan (sesuai Hadits Rasulullah SAW) ketika Bank Syariah memberikan bonus kepada Nasabah. Begitu juga untuk akad mudharabah, Nasabah tidak dijanjikan hasil pasti sebesar % x pokok (seperti bunga), namun diberikan hasil sesuai nisbah bagi hasil dengan perhitungan % x Hasil (tergantung hasil sesuai realisasi di periode tertentu).

Pada produk pembiayaan di Bank Syariah, adanya adalah skema dagang, baik dalam bentuk jual beli barang, jual beli manfaat (sewa maupun jasa), kongsi (yang pasti melalui jual beli jika ingin menghadirkan keuntungan). Tidak ada skema pinjaman atau hutang bersyarat manfaat bagi pemberi hutang. Dengan demikian, valid tidak ada Riba dalam pembiayaan syariah.

Riba Jual Beli

Kedua, Riba Jual Beli. Sesuai dengan istilahnya, Riba Jual Beli adalah Riba yang terjadi pada skema pertukaran, yakni pertukaran Harta Ribawi. Pada masa klasik, harta Ribawi adalah emas, perak, garam, kurma, gandum burr, dan gandum sya’ir. Sebagian ulama berpendapat bahwa harta Ribawi ini juga termasuk qiyas dari 6 harta Ribawi tersebut, misalnya alat tukar resmi berupa Rupiah.

Berdasarkan penelusuran penulis pada Kitab Bidayah al Mujtahid wa Nihayah al Muqtashid dan Kitab I’anah ath Thalibin, minimal ada 7 syarat agar pertukaran harta Ribawi tersebut tidak terkena Riba, yakni (1) haa`a wa haa`a (saling menerima dan menyerahkan), (2) yadan bi yadin (tunai atau hand by hand), (3) sawaa`an bi sawaa`in (setara), (4) mitslan bi mitslin (sejenis), (5) aynan bi aynin (sebarang, sama-sama terjadi penyerahan barang), (6) kaylan bi kaylin (setakaran), (7) waznan bi waznin (sepola, setimbangan). Itu syarat minimal pertukaran harta Ribawi.

Uniknya, keenam harta Ribawi tersebut  bisa berubah menjadi sil’ah atau komoditas ketika fakta membuktikan bahwa alat tukar saat ini bukan lagi emas dan perak, namun Rupiah. Ushul fiqh atas kondisi ini yang juga menyebabkan bahwa emas tidak lagi diberlakukan sebagai harta Ribawi, namun sebagai komoditas, sehingga bisa diperjualbelikan secara tidak tunai.

Ada dua contoh konkret pertukaran harta Ribawi yang difatwakan halal melalui Fatwa DSN MUI No. 28 tentang Jual Beli Sharf, yakni spot dan forward lil haajah. Spot adalah pertukaran harta Ribawi (misanya Rupiah) yang sifatnya tunai. Sedangkan forward lil haajah adalah pertukaran harta Ribawi yang dilaksanakan secara tunai di masa mendatang. Forward ini hukum asalnya adalah haram, namun menjadi halal oleh karena pertimbangan hajiyat, misalnya pembelian Dollar atau Riyal dalam rangka pelaksanaan Ibadah Haji.

Demikian definisi tentang Riba baik Riba Pinjaman maupun Riba pada Jual Beli agar memudahkan kita untuk mengindentifikasi secara akurat apakah sebuah transaksi termasuk kategori Riba atau tidak.

Biang Pesta Riba

Ada fenomena unik yang muncul di masyarakat tersebab ketidakakuratan memahami persoalan Riba dalam perbankan. Tak sedikit yang mengatakan bahwa punya rekening di Bank Konvensional itu bukan Riba. Ada pula yang menyatakan bahwa punya rekening di Bank Konvensional asalkan tidak mengambil bunga-nya berarti tidak Riba. Adalagi yang mengatakan bahwa bertransaksi di Bank Konvensional itu tidak Riba jika hanya sekedar melakukan transaksi berbasis jual beli jasa.

Mari kita buktikan apakah anggapan tersebut punya landasan yang masuk akal atau tidak. Hal ini perlu ditegaskan agar masyarakat memiliki pandangan yang terang benderang (bayyinun) tentang transaksi yang mereka lakukan ini Riba atau bukan. Jika memang transaksinya adalah Riba, mari kita bersama-sama segera meninggalkannya.

Pertama, logika punya saldo di Bank Konvensional. Mari gunakan logika sederhana. Tersebab adanya saldo di Bank Konvensional, maka Bank Konvensional tetap bisa hidup, tetap bisa pesta Riba, tetap bisa menjalankan bisnis dan operasionalnya, bahkan saldo Anda merupakan sumber nyawa paling utama dari Bank Konvensional.

Bisa dibilang, saldo rekening Anda di Bank Konvensional adalah biang pesta Riba bagi Bank Konvensional. Saldo rekening Anda di Bank Konvensional adalah satu-satunya nyawa utama pesta Riba di Bank Konvensional. Tanpa-nya, Bank Konvensional mati.

Ada kaidah fikih, maa laa yatimmu al waajib illaa bihi fahuwa waajib. Sesuatu yang tiada sempurna sebuah kewajiban tanpa sesuatu itu, maka sesuatu itu menjadi wajib. Kaidah ini tentu senada dengan kaidah maa laa yatimmu al haraam illaa bihi fahuwa haraam. Sesuatu yang tiada sempurna sebuah keharaman tanpa sesuatu itu, maka sesuatu itu menjadi haram.

Perhatikan bahwa ketika saldo itu tidak ada, maka mati sudah Bank Konvensional, sehingga saldo rekening Anda di Bank Konvensional ikut terhukum haram oleh karena selain sebagai sumber nyawa pesta Riba Bank Riba, juga merupakan transaksi pesta Riba itu sendiri.

Perhatikan skema Tabungan, Giro, Deposito di Bank Konvensional. Ketika Anda menabung di Bank Konvensional, maka otomatis bersyarat pengembalian kelebihan bunga dari pokok pinjaman. Bahkan dari sisi logika bisnis, skema ini mengajarkan manusia untuk berlagak jadi Tuhan, berlagak jadi Allah. Uang belum ditransaksikan, namun sudah bisa menjanjikan hasil pasti sebesar % x pokok simpanan. Padahal, hanya Allah yang layak melakukan hal itu. Hanya Allah yang Mahatahu kepastian takdir atas hasil bisnis.

Dengan demikian, ketika Anda memiliki saldo di Bank Konvensional, maka otomatis melakukan beberapa hal sekaligus, yakni berlagak jadi Allah, melakukan transaksi pesta Riba, dan menjadi biang dari transaksi pesta Riba.

Kedua, logika punya saldo di Bank Konvensional tanpa ambil bunga. Ini perilaku unik yang tampak jelas membuktikan bahwa pelakunya punya jiwa pejuang Riba sejati tanpa pamrih, rela berkorban demi pesta Riba tetap lestari.

Perhatikan, ketika Anda punya saldo di Bank Konvensional, maka otomatis Anda akan valid disebut sebagai Pejuang Riba, oleh karena Anda valid melakukan pesta Riba. Saldo Anda menjadi biang dan nyawa dari pesta Riba, dan Anda pun melakukan transaksi berlagak jadi Tuhan, sebagaimana kita bahas sebelumnya.

Nah, ketika perjuangan Anda melaksanakan pesta Riba dan menjadi biang pesta Riba ini Anda ikhlas tidak memperoleh bunga yang seharusnya menjadi jatah Anda, maka Anda terbukti semakin baik hati dan berani berkorban jiwa raga menegakkan pesta Riba di Bank Konvensional. Maka tepat kiranya Anda sangat layak disebut sebagai pejuang Riba sejati tanpa pamrih.

Catatan tambahan, ketika Anda memiliki saldo di rekening Bank Riba namun tidak ambil bunga-nya, maka ini semakin memanjakan para bankir pejuang Riba karena akan otomatis menambah keuntungan hasil bisnis pesta Riba yang menyebabkan pesta Riba mereka menjadi semakin lestari dan leluasa. Anda layak disebut pejuang Riba sejati tanpa pamrih.

Ketiga, logika transaksi berbasis jasa di Bank Konvensional. Ada lagi satu anggapan bahwa tidak masalah Anda bertransaksi di Bank Riba jika transaksinya hanya jual beli jasa atau menggunakan fasilitas pembayaran misalnya pembayaran listrik, air, pajak, pulsa, dan sejenisnya.

Mari dilogika. Ketika Bank Konvensional menggunakan dana penabung dan pendeposito Riba untuk disalurkan dalam kredit pesta Riba kok menghasilkan keuntungan, maka keuntungan atau hasilnya dibagikan kepada penabung atau pendeposito dalam bentuk janji bunga di awal akad. Lain halnya ketika Anda melakukan transaksi berbasis jasa, maka keuntungan yang diperoleh Bank Riba akan sepenuhnya menjadi hak milik Bank Riba. Dengan demikian, Anda semakin valid menjadi pejuang Riba sejati, semakin memanjakan dan menguntungkan bisnis pesta Riba. Anda valid menjadi penyebab bisnis pesta Riba tetap lestari.

Berdasarkan uraian di atas bisa disimpulkan bahwa apapun transaksi Anda di Bank Konvensional, maka kemungkinannya cuma ada 2, yakni (1) pesta Riba, (2) pelestari pesta Riba. Begitu juga ketika Anda punya saldo di rekening Bank Konvensional, otomatis kemungkinannya cuma ada 2, yakni (1) pejuang Riba, (2) pejuang Riba sejati tanpa pamrih. Satu rupiah saldo Anda, secara akuntansi dan fakta di lapangan, otomatis menjadi nyawa pesta Riba.

Demikian logika fikih biang pesta Riba. Jangan sampai Anda kampanye anti Riba dengan malah ngajak diri sendiri dan orang lain menjadi pejuang pesta Riba dengan punya saldo di Bank Konvensional. Jangan sampai Anda kampanye perang melawan Riba dengan malah ngajak diri dan orang lain menjadi pejuang pesta Riba dengan bertransaksi apapun di Bank Konvensional.

Solusi menurut Fatwa No. 1 tahun 2004 jelas, yakni mari gunakan Lembaga Keuangan Syariah. Adalagi anggapan tidak usah berurusan dengan Bank apapun, berarti otomatis Anda pasti tidak lagi butuh uang. Ayo Ke Bank Syariah. #iLoveiB

Simpulan: Bank Syariah tidak mengandung Riba Pinjaman/Hutang maupun Riba Jual Beli.

===========================================================

“Riba Pinjaman adalah ketika ada [1] Pinjaman [2] Bersyarat [3] Aliran Manfaat [4] Bagi Pemberi Pinjaman.” Ifham Quotes

===========================================================

Oleh Ahmad Ifham Sholihin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *